Blog Berisi Syariat agama Islam ,kajian Islam,Sholat,Puasa,Zakat,Qurban Sejarah Nabi,Tafsir Ibnu Katsir,Al Hadist,Berita, dan Lowongan Kerja.

- Orang Yang Sholat Pertama kali Bukan Rosulullah saw ....?



 فأوّل من صلى الصبح آدم عليه السلام حين خرج من الجنّة ورآى الظلمة فخاف خوفا شديدا فلمّا انشقّ الفجر صلى ركعتين ركعة للشكر على خلاصه من الظلمة وركعة للشكر على عود ضوء النهار
– Orang yang pertama kali Shalat shubuh adalah Nabi Adam as. pada waktu keluar dari surga dan ia melihat kegelapan malam maka ia amat merasa takut maka tatkala terbit fajar ia shalat dua rakaat, rakaat yang pertama karena bersyukur akan keselamatannya dari kegelapan. Dan satu rakaatnya lagi karena bersyukur atas kembalinya terang benderang.
وأوّل من صلى الظهر إبراهيم عليه السلام حين أمره الله تعالى بذبح ولده إسمعيل ثمّ يذبح فدائه وذلك حين زوال الشمس فصلى أربع ركعات ركعة للشكر على الفداء وركعة للشكر على ذهاب حزنه على ولده وركعة لطلب رضا الله تعالى عليه وركعة لحصول النعمة وهى الكبش المنـزل من الجنّة وهو كبش هابيل
– Dan orang yang pertama kali Shalat Zhuhur adalah Nabi Ibrahim as. pada waktu Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail kemudian disembelihlah penggantinya bertepatan pada waktu Zawalnya matahari maka shalatlah ia sebanyak empat raka`at.
rakaat yang pertama karena bersyukur atas pengganti anaknya, raka`at yang kedua karena bersyukur atas hilang kesedihannya pada anaknya, rakaat yang ketiga karena mengharap Ridho Allah Swt. Dan seraka`atnya lagi karena sampai pada ni`mat yang diberikan Allah yakni seekor kambing gibas yang diturunkan oleh malaikat dari surga dan itu kambing ialah kambing kepunyaan sayyid Habil bin Adam as.
وأوّل من صلى العصر يونس عليه السلام حين أخرجه الله تعالى من البطن الحوت وهو مثل فرخ الطير الّذى لاريش فيه وقد كان فى أربع ظلمات ظلمة الحشا وظلمة الماء وظلمة الليل وظلمة فى بطن الحوت وكان خروجه وقت العصر فصلى أربع ركعات شكرا لله تعالى على خلاصه من تلك الظلمات الأربع
– Dan orang yang pertama kali Shalat Ashar adalah Nabi Yunus as. pada waktu Allah Mengeluarkannya dari dalam perut ikan paus dan ia bagaikan seekor anak burung yang tidak memiliki bulu dan sungguh ia berada dalam empat kegelapan, pertama gelap dalam kekhawatiran, kedua gelap dalam air, ketiga dalam gelap malam, ke empat gelap didalam isi perut ikan paus dan terbukti keluarnya bertepatan pada waktu Ashar maka shalatlah ia sebanyak empat raka`at. Karena bersyukur kepada Allah atas keselamatannya dari empat kegelapan itu.
وأوّل من صلى المغرب عيسى عليه السلام حين خرج من بين قومه وهو حين غروب الشمس فصلى ثلاث ركعات ركعة لنفى الألوهيّة عن غير الله تعالى وركعة ثانية لنفى التهمة عن أمّه من قذف قومه وركعة لإثبات التّأثير والألوهيّة لله وحده ولهذا تجتمع الركعتان الأولتان وتنفرد الركعة الثالثة
– Dan orang yang pertama kali Shalat Maghrib adalah Nabi 'Isa as. pada waktu ia keluar diantara kaumnya pada waktu terbenam matahari maka ia shalat tiga raka`at, rakaat pertama karena menafikan pangkat ketuhanan dari selain Allah Ta`ala, rakaat yang kedua karena menafikan dari salah sangka dari ibunya dari sangkaan kaumnya, rakaat yang ketiga karena menetapkan pengaruh dan pangkat ketuhanan kepada satu Allah dengan sebab ini terkumpul dua raka`at yang pertama dan menyendiri rakaa`at yang ketiga.
وأوّل من صلى العشاء موسى عليه السلام حين ضلّ عن الطريق حين خروجه من مدين وهو فى أحزان أربعة فى حزن على زوجه وحزن على أخيه هارون وحزن على أولاده وحزن على سطوة فرعون فخلصه الله من ذلك كلّه بوعد صادف ذلك فى وقت العشاء فصلى أربع ركعات شكرا لله تعالى على ذهاب الأحزان الأربعة
– Dan orang yang pertama kali Shalat Isya` adalah Nabi Musa as. pada waktu ia tersesat dari jalan pada waktu keluar dari madyan dan ia berada dalam empat kesedihan, yakni dari kesedihan istrinya, saudaranya yang bernama harun, anak-anaknya dan kesedihan kekuatan/ serangan fir`aun maka Allah menyelamatkannya dari semua kesedihannya itu. Dan itu kejadian bertepatan pada waktu I`sya maka shalat ia sebanyak empat raka`at karena bersyukur kepada Allah Ta`ala atas hilangnya kesedihan-kesedihan yang empat itu.
وروى أنّ الصبح لآدم والظهر لداود والعصر لسليمان والمغرب ليعقوب والعشاء ليونس
وقد نظمها بعضهم من بحر الطويل فقال :
لآدم صبح والعشاء ليونس * وظهر لداود وعصر سليمانا
ومغرب يعقوب وقد جمعت له * عليه صلاة الله سرّا وإعلانا
Dan diriwayatkan sesungguhnya shalat shubuh untuk Nabi adam as., zhuhur untuk nabi Daud as., ashar untuk nabi Sulaiman as., maghrib untuk untuk nabi Ya`qub dan I`sya untuk nabi Yunus as.
Dan sungguh sebagian Ulama' telah menyairkannya dalam bahar Thowil, maka bersyair para Ulama' :
Tetap untuk Nabi Adam shalat shubuh dan Isya untuk Nabi Yunus * Zhuhur untuk Nabi Daud dan Ashar untuk Nabi Sulaiman.
Maghrib untuk Nabi Ya`qub dan sungguh seluruhnya di kumpulkan * untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam secara rahasia dan terang-terangan.
سلم المناجاة
شيخ النواوى الجاوى
Sumber : http://www.piss-ktb.com/   Disadur dari kitab Sullam Munajat karya Mbah Nawawi Al Jawi
Share:

- Apa Hukum Dasar Makan Kepiting yang Banyak Digemari Masyarakat ...?


Masalah kehalalan kepiting, memang telah menjadi polemik sejak lama, telah terjadi silang pendapat tentang hukum kepiting di kalangan ulama’. Berikut pendapat tersebut :
1. Pendapat yang Mengharamkan
Ulama’ yang mengharamkannya umumnya berkesimpulan dari pemahaman bahwa hewan yang hidup di dua alam, adalah haram dimakan. Misalnya, katak, penyu dan lainnya. Biasanya orang menyebutkan dengan istilah amphibi, atau dalam istilah fiqihnya disebut barma''i. Masalah keharaman hewan amphibi ini kita dapatkan salah satunya dalam kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Ar-Ramli. Di sana secara tegas disebutkan haramnya hewan yang hidup di dua alam. Namun sebenarnya, masalah keharaman hewan yang hidup di dua alam, juga masih diperselisihkan. Karena memang tidak ada ayat atau hadits yang menyebutkan keharaman hewan yang hidup di dua alam.
2. Pendapat yang Menghalalkan.
Pendapat kedua menyatakan tentang kehalalan kepiting, baik karena mereka memandang pengharaman terhadap hewan yang hidup di dua lalam adalah lemah, juga sebagian memastikan, bahwa kepiting bukanlah hewan ampibhi. inilah pendapat disampaikan ulama’ diantaranya Atha'dan Imam Ahmad.(Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah danAl-Muhalla 6/84 oleh IbnuHazm).
Kesimpulan
Pendapat bahwa kepiting itu bukan hewan dua alam dikemukakan oleh banyak pakar di bidang perkepitingan. Umumnya mereka memastikan bahwa kepiting bukan hewan amfibi seperti katak. Katak bisa hidup di darat dan air karena bernapas dengan paru-paru dan kulit.
Tetapi tidak demikian halnya dengan kepiting. Kepiting hanya bernapas dengan insang. Kepiting memang bisa tahan di darat selama 4-5 hari, karena insangnya menyimpan air, sehingga masih bisa bernapas. Tapi kalau tidak ada airnya sama sekali, dia mati. Jadi kepiting tidak bisa lepas dari air. Penjelasan bahwa kepiting bukan hewan amphibi disampaikan oleh ahli dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Sulistiono. Wallohu a'lam. [Awan Menatap Pelangi , Ghufron Bkl, Mbah Jenggot II].
Lampiran :
KEPUTUSAN FATWA KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG KEPITING
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam rapat Komisi bersama dengan Pengurus Harian MUI dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP.POM MUI), pada hari Sabtu, 4 Rabiul. Akhir 1423 H./15 Juni 2002 M., Setelah
MENIMBANG
1. bahwa di kalangan umat Islam Indonesia, status hukum mengkonsumsi kepiting masih dipertanyakan kehalalannya;
2. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hokum mengkonsumsi kepiting, sebagai pedoman bagi umat Islam dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.
MENGINGAT
1. Firman Allah SWT tentang keharusan mengkonsumsi yang halal dan thayyib (baik), hukum mengkonsumsi jenis makanan hewani, dan sejenisnya, antara lain :
"Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah‐langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS. al‐Baqarah [2]: 168).
”(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menhalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan! bagi mereka segala yang buruk... "(QS. al-A'raf [7]: 157).
Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka? " Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik‐baik dan (buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya". Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah jika kamu hanya kepada‐Nya saja menyembah. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik ! dari apa yang Allah telah berikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada‐Nya. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang baik, bagimu, dan bagi orang‐orang yang dalam perjalanan panjang,.......... '(QS. al‐Baqarah [2] : 172).
Perjalanan panjang, rambutnya acak‐acakan, dan badannya berlumur debu. Sambil menengadahkan kedua tangan ke langit ia berdoa, 'Ya Tuhan, ya Tuhan,.. (berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh Allah swt. Sedangkan, makanan orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. (Nabi memberikan komentar), 'Jika demikian halnya, bagaimana mumgkin ia akan dikabulkan doanya"... (HR. Muslim dari Abu Hurairah), "Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ad! a hal‐hal yang musytabihat (syubhat, samar‐samar, tidak jelas halas haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati‐hati dari perkara syubhat sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya..." (HR. Muslim).
2. Hadis Nabi : "Laut itu suci airnya dan halal bangkai (ikan) nya".
3. (Qo'idah fiqhiyyah) • Pada dasarnya hukum tentang sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya
4. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI Periode 2001‐2005
5. Pedoman Penetapan Fatwa MUI
MEMPERHATIKAN :
1. Pendapat Imam Al Ramli dalam Nihayah Al Muhtaj ila Ma’rifah Alfadza al-Minhaj, (t.t : Dar’al –Fikr, t.th) juz VIII, halaman 150 tentang pengertian “Binatang laut/air , dan halaman 151-152 tentang binatang yang hidup dilaut dan di daratan.
2. Pendapat Syeikh Muhammad al-Kathib asSyarbaini dalam Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Al-Minhaj, (t.t : Dar Al-Fikr, T.th), juz IV Hal 297 tentang pengertian “binatang laut/Air “, pendapat Imam Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi dalam Minhaj Al-Thalibin, Juz IV, hal. 298 tentang binatang laut dan didaratan serta alasan (‘illah) hukum keharamannya yang dikemukakan oleh al-Syarbaini :
3. Pendapat Ibn al'Arabi dan ulama lain sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh al‐Sunnah (Beirut : Dar al-Fikr, 1992), Juz lll, halaman 249 tentang "binatang yang hidup di daratan dan laut".
4. Pendapat Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA (anggota Komisi Fatwa) dalam makalah Kepiting : Halal atau Haram dan penjelasan yang disampaikannya pada Rapat Komisi Fatwa MUI, serta pendapat peserta rapat pada hari Rab 29 Mei 2002 M. / 16 Rabi'ul Awwal 1421 H.
5. Pendapat Dr. Sulistiono (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB) dalam makalah Eko-Biologi Kepiting Bakau (Scyllla spp) dan penjelasannya tentang kepiting yang disampaikan pada Rapat Kornisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, 4 Rabi'ul Akhir 1423 H / 15 Juni 2002 M. antara lain sebagai berikut :
6. Ada 4 (empat) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yaitu :
a. Scylla serrata,
b. Scylla tranquebarrica,
c. Scylla olivacea, dan
d. Scylla pararnarnosain.
Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan "kepiting".
7. Kepiting adalah jenis binatang air, dengan alasan :
a. Bernafas dengan insang.
b. Berhabitat di air.
c. Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.
8. Kepiting termasuk keempat,jenis di atas (lili._angka 1) hanya ada yang : 9.
a. hidup di air tawar saja
b. hidup di air laut saja, dan
c. hidup di air laut dan di air tawar. Tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam : di laut dan di darat.
Rapat Komisi Fatwa MUI dalam rapat tersebut, bahwa kepiting, adalah binatang air baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam : dilaut dan didarat :
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT.
MEMUTUSKAN MENETAPKAN : FATWA TENTANG KEPITING
1. Kepiting adalah halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan Manusia.
2. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan, akan diperbaiki sebagaimana:, mestinya.
Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.
Ditetapkan di: Jakarta Pada tanggal : 4 Rabi'ul Akhir 1423 H. 15 Ju1i 2002 M
KOMISI FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA
Ketua,                                              Sekretaris,
K. H. MA'RUF AMIN                        DRS. HASANUDIN, S.Ag.

Sumber: http://www.piss-ktb.com/
Share:

- Habib Rezieq Ingin Bentuk Koalisi dengan Demokrat ....?


Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab memberikan pidato sambutan pada pembukaan acara Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) - Ulama. Acara tersebut digelar di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018).
Dalam pidatonya, Habib Rizieq menyampaikan bahwa tangannya selalu terbuka bagi partai-partai politik yang memiliki tujuan sama untuk membela negara. Dalam kesempatannya, Habib Rizieq menyebut nama Partai Demokrat.

Diketahui, dalam acara tersebut hadir lima partai yakni Partai Gerindra, PAN, PKS, PBB dan Partai Berkarya.
"Termasuk kita juga merangkul parpol baru seperti partai Idaman dan partai Berkarya. Kita juga harus selalu terbuka kepada parpol-parpol lainnya untuk membela negara. Seperti partai Demokrat," kata Habib dalam pidatonya.
Habib Rizieq berharap dalam musyarawah antara ulama dan partai-partai tersebut dapat menghasilkan rekomendasi capres dan cawapres yang disetujui para ulama. Ia meyakini koalisi keumatan akan didukung oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
"Koalisi yang hadir dari ijtima ulama hari ini akan didukung oleh gelombang umat yang besar umat. Yang selama ini menjadi mayoritas yang termarjinalkan," katanya.

Habib Rizieq pun meyakini kepada seluruh ulama dan tokoh nasional yang hadir untuk tidak khawatir soal elektabilitas apalagi posko pemenangan. Ia akan menyiapkan dengan tenaga penuh demi mengganti Presiden di Pilpres 2019 nanti.
"Yakin lah kekuatan umat akan jadi modal logistik yang maha dahsyat bagi koalisi yang didukung oleh habib dan ulama. Jadi belajarlah dari pilkada DKI Jakarta. Mampu mengalahkan calon petahana yang ditopang perancang negara yang di backup segala instansinya," katanya menandaskan.

Sumber Suara.com 28 - Juli -2018
Share:

- Qurban dulu Atau Aqiqoh Dahulu ....?


Pembahasan kali ini berhungan dengan seringnya timbul  pertanyaan yang ingin melakukan qurban tetapi dulu belum sempat disembelihkan kambing aqiqoh oleh orang tuanya . Adapun isi pertanyaannya adalah: Jika kita sampai dewasa belum diaqiqahi oleh orang tua kita manakah yang harus kita dahulukan antara kurban dan aqiqah?

Jawaban :
Sebenarnya dalam aqiqah dan kurban ada persamaan diantara kedua ibadah ini yakni sama-sama sunnah hukumnya menurut madzhab Syafi’i (selama tidak nadzar), serta adanaya aktifitas penyembelihan terhadap hewan yang telah memenuhi syarat untuk dipotong.

Sementara perbedaan yang ada diantara keduanya lebih pada waktu pelaksanaannya. Kurban hanya dapat dilakukan pada bulan DzulHijjah saja, sedangkan aqiqah dilaksanakan pada saat mengiringi kelahiran seorang bayi dan lebih dianjurkan lagi pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Saudara Nurgianto yang kami hormati Pada dasarnya aqiqah merupakan hak seorang anak atas orang tuanya, artinya anjuran untuk menyembelih hewan aqiqah sangat ditekankan kepada orang tua bayi yang diberi kelapangan rizki untuk sekedar berbagi dalam rangka menyongsong kelahiran anaknya.

Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw: مَعَ الغُلاَمِ عَقِيقَةٌ Artinya: aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi (HR. Bukhari). Para ulama memberi kelonggaran pelaksanaan aqiqah oleh orang tua hingga si bayi tumbuh sampai dengan baligh.

Setelah itu, anjuran aqiqah tidak lagi dibebankan kepada orang tua melainkan diserahkan kepada sang anak untuk melaksanakan sendiri atau meninggalkannya. Dalam hal ini tentunya melaksanakan aqiqah sendiri lebih baik dari pada tidak melaksanakanya. Terkait dengan pertanyaan saudara, manakah yang didahulukan antara kurban dan aqiqah?

Menurut hemat kami jawabannya adalah tergantung momentum serta situasi dan kondisi. Apabila mendekati hari raya Idul Adha seperti sekarang ini, maka mendahulukan kurban adalah lebih baik dari pada malaksanakan aqiqah. Ada baiknya pula- apabila saudara menginginkan kedua-keduanya (kurban&aqiqah)- saudara mengikuti pendapat imam Ramli yang membolehkan dua niat dalam menyembelih seekor hewan, yakni niat kurban dan aqiqah sekaligus.

Adapun referensi yang kami gunakan mengacu pada kitab Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani:
 قال ابن حجر لو أراد بالشاة الواحدة الأضحية والعقيقة لم يكف خلافا للعلامة الرملى حيث قال ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحية والعقيقة حصلا
Artinya; Ibnu Hajar berkata: “Seandainya ada seseorang meginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidak cukup”. Berbeda dengan al-‘allamah Ar-Ramli yang mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Konsekuensi yang mungkin kotradiktif dari pendapat imam Romli ini adalah dalam pembagian dagingnya, mengingat daging kurban lebih afdhal dibagikan dalam kondisi belum dimasak (masih mentah), sementara aqiqah dibagikan dalam kondisi siap saji. Problem ini tentunya tidak perlu dipermasalahkan karena cara pembagian tersebut bukanlah termasuk hal yang subtantif. Kedua cara pembagian daging tersebut adalah demi meraih keutamaan, bukan menyangkut keabsahan ibadah. Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber dikutip dari : www.nu.or.id
Share:

- Hukum Makan daging Tupai ...?

Berburu adalah aktivitas yang cukup mengasyikkan bagi para lelaki, di samping aktivitas ini memang merupakan bagian dari sunnah. Di wilayah Jawa dan Sumatera, salah satu binatang yang kerap diburu adalah tupai. Beberapa waktu lalu, ada teman yang masih ragu tentang hukum makan daging tupai dari hasil buruannya. Apakah boleh dimakan atau tidak?
Para ulama fikih telah menjelaskan hukum makan daging tupai. Seperti biasa, ada perbedaan pendapat di antara mereka. Wajar, pembahasan ini termasuk ranah Ijtihad Ulama. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan simpulan terhadap sifat binatang yang melekat pada binatang tupai, apakah sifat-sifat tersebut bisa diqiyaskan dengan ciri-ciri binatang yang diharamkan ataukah tidak, mengingat tidak ada nash yang secara jelas dan sharih tentang status hukumnya.

Pendapat Haram Makan Daging Tupai

Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, hukum makan daging tupai adalah haram. Menurut mereka, letak keharaman bintang ini, karena tupai termasuk binatang bertaring yang digunakan untuk memburu mangsanya. (Fiqh ‘Ala al-Mazhahib al-Arba’ah, 2/9)
Abu Yusuf, salah satu Ulama mazhab Hanafi menyebutkan, “Tupai tidak boleh dimakan karena bertaring sehingga masuk dalam keumuan hadits Nabi yang mengharamkan semua binatang yang bertaring.” (Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq, Fakhruddin Utsman bin Ali az-Zaila’i, 16/265)

Syaikh Abdullah al-Faqih menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat soal hukum bolehnya makan daging tupai, sementara sebagian lainnya berpendapat haram karena ia memangsa dengan taringnya. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah. Adapun menurut Malikiyah, makan daging tupai hukumnya makruh. (Ensiklopedi Halal Haram Makanan, Yazid Abu Fida’, 174-176)
Syaikh Zainul Abidin bin Muhammad Ballafrij, salah seorang ulama Andalus, juga berpendapat tidak boleh makan daging tupai. Beliau memahami bahwa tupai termasuk dalam marga tikus, sehingga binatang ini dihukumi sama seperti tikus yang beliau nyatakan tidak boleh dimakan karena binatang yang menjijikkan, kotor, dan bau.

Pendapat Mubah Makan Daging Tupai

Sedangkan menurut ulama dari kalangan mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki, hukum makan daging tupai adalah mubah. Ulama mazhab Syafii beralasan, meskipun tupai itu bertaring namun taringnya lemah dan tidak digunakan untuk memangsa. (Asna al-Mathalib Syarh Raudh ath-Thalib, 7/155) Sementara ulama mazhab Maliki berdalil dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
“Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi— karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”(QS. Al-An’am: 145)

Menurut mereka, daging binatang buas tidak termasuk yang diharamkan dalam ayat tersebut, sehingga hukumnya mubah. Adanya larangan memakan setiap binatang yang bertaring maka mereka memahaminya dengan makruh. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 5/134)
Menurut imam an-Nawawi, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Khalil, dan al-Mawardi, pendapat yang rajih adalah makan daging tupai adalah boleh, dagingnya halal. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, 8/210)
Pertanyaan serupa juga pernah saya tanyakan langsung kepada salah seorang Ulama Sudan, Syaikh ash-Shadiq Abu Abdillah al-Hasyimi via pesan tertulis. Beliau menjawab,
“Pokok hukum dari makanan adalah halal, kecuali jika ada dalil shahih dan sharih yang menunjukkan keharamannya, termasuk di dalamnya tupai (sinjab).”

Beliau menukil beberapa pernyataan para Ulama Fikih. Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Tentang Sinjab (tupai) sebagian sahabat kami berpendapat, “Tupai tidak termasuk binatang buas/pemangsa, makanannya adalah tumbuhan/biji. Binatang ini tidak berburu, sama halnya kelinci. Maka, tidak masalah mengonsumsi daginya dan memanfaatkan kulitnya. Kami juga telah meriwayatkan dari Ibnu Mubarak tentang pertanyaan yang diajukan kepada beliau terkait dengan tupai (sinjab) ini. Beliau berkata, “Pemburunya mengabarkan kepadaku bahwa ia biasa memburunya.”

Abu Bakar rahimahullah berkata, “Pernyataan ini tidak penting, sebab informan yang mengabarkan tidak jelas identitasnya, sangat mungkin sekali para pemburu itu memburu binatang yang boleh dimakan atau sebaliknya, memburu binatang yang tak boleh dimakan. Menurut saya, tupai yang boleh dimakan adalah tupai yang disembelih. Sebab, dalam beberapa kasus tidak ada toleransi untuk manusia hingga bahwa binatang itu termasuk binatang yang diharamkan untuk mereka.” (Al-Ausath, 2/316)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun binatang Samur (berang-berang), sinjab (tupai), Fanak (serigala kecil), dan Qaqum (sejenis musang), ada dua pendapat: pendapat yang shahih bahwa binatang tersebut halal; pendapat kedua, binatang tersebut haram.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 9/12

Ibnu Qudamah berkata, “Adapun tentang sinjab (tupai), Al-Qadhi berpendapat, ‘Binatang tersebut hukumnya haram, sebab dia menerkam dengan gigi taringnya, mirip dengan tikus. Tapi, ada kemungkinan binatang itu mubah, sebab dia mirip juga dengan Yarbu’ (sejenis tupai loncat). Di saat terjadi keraguan antara hukum ibahah (mubah) dan tahrim (haram), maka yang dimenangkan adalah ibahah (mubah), sebab itu adalah pokok hukumnya, yang diperkuat dengan dalil umum.” (Al-Mughni, 9/329)

Berdasarkan keterangan di atas menurut Jumhur Ulama, daging tupai adalah halal, makan daging tupai adalah boleh. Meskipun tupai memiliki taring, namun taring tupai itu lemah dan tidak digunakan untuk memburu mangsanya.

Jika Hukum Makan Daging Tupai Itu Mubah, Berarti Boleh Jual Beli Tupai?

Markaz lembaga fatwa menjelaskan bahwa segala sesuatu dapat dijualbelikan dengan syarat komoditi yang ingin dijual statusnya mubah; secara manfaat, bukan dalam kebutuhan kondisi terdesak.
Penulis kitab Zadul Mustaqni’ menyebutkan bahwa salah satu syarat sah jual beli adalah,
وأن تَكُونَ العَيْنُ مُبَاحَةَ النَّفْعِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ
“Hendaknya barang (yang akan dijual) hukum kemanfaatannya adalah mubah dalam kondisi tidak terdesak.” (Syarh Zadul Mustaqni’, Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, 2/144)

Maksudnya, komoditi yang hendak dijualbelikan harus benar-benar memiliki kemanfaatan yang hukumnya mubah secara penuh. Hukum mubahnya tidak terikat dengan kondisi dan situasi terdesak.
Berdasar uraian sebelumnya, karena hukum makan daging tupai itu mubah untuk dimakan, maka jual beli binatang tupai pun juga mubah (boleh), baik dijual sebagai makanan ataupun untuk diambil manfaat lainnya, dengan tetap memerhatikan kaidah-kaidah jual beli secara syar’i.

Lana A'maluna Walakum A'malukum..
 Wallahu a’lam Bishowab

Sumber diambil dari www.dakwah.id
Share:

- Pesan Habib Rizieq Shihab Di Ijtima Ulama 27 Juli 2018 di Jakarta.

RTA—Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama), Habib Rizieq Syihab memberikan sambutan jarak jauh dalam acara Ijtima Ulama yang digelar di Jakarta, Jumat (27/7/2018).
Sambutan tersebut langsung disampaikan dari Mekkah, Arab Saudi, untuk membuka acara Ijtima Ulama. Dalam sambutannya, Habib Rizieq mengharapkan ijtima ulama ini mampu memperkuat barisan umat menuju Indonesia berkah dengan menyatukan partai-partai politik yang berjuang bersama umat.

“Maka saya menyerukan ini mendorong dengan sekuat tenaga untuk menyatukan partai politik yang berjuang bersama umat melawan tirani kezoliman yaitu saudara kita dari Gerindra, PAN dan PBB sebagai lokomotif perjuangan keadilan,” ungkapnya melalui siaran suara dari Mekkah.
Habib Rizieq juga turut menyambut dua partai baru yang mau bergabung dalam acara ijtima ulama yaitu Partai Berkarya maupun Partai Idaman. Dia juga berharap agar Partai Demokrat maupun partai-partai politik lainnya mau turut bergabung dalam perkumpulan tersebut.
“Kita juga selalu terbuka untuk partai lainnya yang bergabung untuk bela agama, bangsa dan negara. Seperti Partai Demokrat. Ayo kita satukan koalisi umat untuk kebangsaan, kebinekaan, untuk NKRI, untuk Pancasila dan UUD 1945. Ayo kita satukan mereka dalam melawan gerakan komunisme, liberalisme, dan islamphobia. Ayo kita tinggalkan sikap angkuh dan kita kedepankan kepentingan negara,” tegas Habib rizieq.
Dia berharap melalui perkumpulan ijtima ulama yang sudah dianggapnya sebagai bagian dari bentuk koalisi keumatan, diharapkan mampu merobohkan tembok keangkuhan dan menghilangkan kezoliman yang saat ini terus terjadi.

“Koalisi akan didukung gelombang umat yang besar, yang termarjinalkan. Yakinlah kekuatan umat akan menjadi modal logsitik yang dahsyat bagi koalisi yang didukung habaib ulama dan umat ini,” ungkap Habib Rizieq.
Dia menegaskan, siapapun nantinya yang terpilih berdasarkan ijtima ulama sebagai pasangan calon presiden maupun calon wakil presiden tidak perlu mengkhawatirkan akan elektabilitas, logisitik, hingga posko pemenangan. Sebab semua itu dikatakannya akan didukung sepenuhnya oleh umat.
“Elektabilitas itu akan kita genjot dengan dukungan ulama dan habaib. Logsitik akan kita galang dana dengan kekuatan ulama dan umat. Posko kemenangan adalah setiap rumah umat akan jadi posko pemenangan. Ayo kita menangkan paslon yang disepaktai ijtima untuk kemaslahatan bangsa dan negara,” tegas Habib Rizieq.
Dalam acara ijtima ulama tersebut hadir Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera, Sohibul Iman, Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan.

Kemudian, Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra  dengan didampingi Sekjen Partai Berkarya, Prio Budi Santoso, Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri, dan Ketua Dewan Pembina PAN, Amien Rais.
Lalu, turut hadir Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Fadli Zon, dan pengurus Ormas Fron Pembela Islam, Munarman. Serta, dihadiri para Ustaz dan ulama dari berbagai daerah. []

Sumber diambil dari  www.islampos.com  tgl 29-Juli-2018
Share:

- Belut Rasanya Guriiiih .., Gimana Hukum Makan Belut ...?


 Ini sudah sering dibahas, intinya khilaf, namun pendapat yang kuat adalah hukumnya halal . Ada kitab khusus yang membahas masalah ini namanya AS SOWAIQUL MUHRIQOH, atau biasa disebut KITAB BELUT.
{ أنكلس } ... في حديث علي رضي اللّه عنه [ أنه بعث إلى السوُّق فقال : لا تأكلوا الأنْكَلِيس ] هو بفتح الهمزة وكسرها : سمك شبيه بالحيَّات ردِئ الغذاء وهو الذي يسمى الْمَارْمَاهِي . وإنما كرِهه لهذا لا لأنه حرام . هكذا يُروى الحديث عن علي رضي اللّه عنه . ورواه الأزهري عن عمار وقال : [ الأنْقلِيس ] بالقاف لغة فيه
[ INKILIIS, Belut ] Dalam hadits marfuu’nya sayyidina Ali ra, sesungguhnya beliau mengutus ke pasar kemudian berkata “Janganlah memakan belut”. Belut ialah hewn yang mirip ular yang buruk makanannya ia disebut juga dengan marmahi. Pelarangan di atas bukan ke arah hukum haram namun makruh. Demikianlah riwayat hadist dari sayyidina Ali ra. Al-Azhary dari ‘Ammaar meriwayatkan dengan menggunakan huruf Qaaf “INQLIISY”. [ An-Nihaayah Fii Ghariib al-Aatsaar I/183 ].
Dalam ibarah Al-Fiqh al-islaam I/30 belut  dihukumi HALAL :
والحكم الخاص بحل الجزء المبان من السمك يشمل جميع أنواع السمك ومنه الجريت بكسر المعجمة وتشديد المهملة وهو سمك اسود مدور
Hukum kehalalan yang berlaku pada bagian potongan tubuh dari ikan, mencakup pada seluruh species jenis-jenis ikan yang ada diantaranya belut yaitu ikan yang berwarna hitam dan berbentuk bulat. [ Al-Fiqh al-islaam I/30 ].
Berikut Istilah nama-nama untuk belut :
انقلس : الأنقيلس والأنقليس : سمكة على خلقة حية ، وهي عجمية . ابن الأعرابي : الشلق الأنكليس ، ومرة قال : الأنقليس ، وهو السمك الجري والجريت ; وقال الليث : هو بفتح اللام والألف ، ومنهم من يكسر الألف واللام ، قال الأزهري : أراها معربة .
INQILIS, ANQILIIS, INQILIIS : Ikan dengan bentuk fisik seperti ular, adalah hewan ‘Ajam (di luar arab) Ibn ‘Araby “Ikan kecil Ankaliis”. Marrah “Anqaliis adalah al-Jary dan al-Jiriit, belut”. Al-Lays “Dengan membaca fathah lam dan alifnya ANQALIIS, sebagian ada yang menkasrah lam dan alifnya INQILIIS. Al-Azhary “Menurutku memang bentuk kalimat yang mu’rab”. [ Lisaan al-‘Araab hal 177 ]. Wallahu A'lam Bis showaab.

Sumber: http://www.piss-ktb.com/2012/03/1268-beluthalal-atau-haram.html
Share:

- Dikubur Ternyata Bisa ngajak Teman ..........?

*TERNYATA DIDALAM KUBUR BISA NGAJAK TEMAN-TEMAN*



_Oleh: Abu Shafaa Al-Ichwan_

Tahukah kamu, sebenarnya kamu tidak harus sendiri di dalam kubur menghadapi malaikat Munkar & Nakir. Kamu bisa membawa teman-teman karibmu, sahabat-sahabat setiamu dan keluarga terbaikmu.

Mereka dgn ikhlas menemani dan menghiburmu dalam kubur agar kau senang, mereka akan membawakan cahaya agar kuburmu terang, menyiapkan halaman penuh bunga agar kuburmu lapang, memakaikan pakaian sutra agar badanmu nyaman, menghamparkan kasur hangat dan dipan berwangikan kasturi utk kau tidur dengan nyenyak dan tenang, mereka akan membantumu menghadapi segala kemungkinan agar kau menang.

Mereka adalah *5 teman yg sangat rupawan*, pakaiannya sangatlah indah, baunya sangatlah harum. Mereka bernama *si Sholat, si Zakat, si Puasa, si Amal Sholeh dan si Qur'an*. Ya, mereka benar-benar akan menjelma menjadi "sosok rupawan nan menawan" yg selalu menemani dan menjagamu dalam kubur.

Merekalah teman, sahabat dan keluarga sejatimu.

Bagi orang yang beriman dan ta'at, di dalam kubur nanti, *si SHOLAT akan berjaga dari adzab dibagian kepala, si ZAKAT akan berjaga dari adzab disisi kanan, si PUASA akan berjaga dari adzab disisi kiri, si AMAL SHOLEH lainnya akan berjaga dari adzab disisi kedua kaki, dan si AL-QUR'AN akan memeluk berjaga dari adzab pada seluruh tubuh.*

Apakah semua teman-teman ini terpikir olehmu saat ini?

Atau selama ini kamu sudah berteman tetapi hanya sekedarnya saja, bahkan mungkin lebih sering kamu abaikan. Tidakkah kamu berfikir lagi, siapa teman-teman sejatimu yg sesungguhnya.

Ataukah masih saja kamu sibuk dengan teman-teman duniawi yang tidak akan perduli denganmu saat kamu menghadapi sakaratul maut, teman-teman yang langsung kembali pada kehebohan dan kesenangan duniawi sesaat setelah acara penguburanmu.

Rasulullah bersabda,

فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدَ رَأْسِهِ ، فَتَقُولُ الصَّلاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

Kemudian didatangkan malaikat dari arah kepalanya utk menyiksa, maka sholat berkata "Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)"

فَيُؤْتَى مِنْ عَنْدَ يَمِينِهِ ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

Kemudian didatangkan malaikat dari arah kanannya utk menyiksa maka zakat berkata "Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)"

فَيُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

Kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya utk menyiksa maka puasa berkata "Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)"

فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ ، فَيَقُولُ : فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

Kemudian didatangkan malaikat dari arah kakinya utk menyiksa, maka amal sholeh, segala sunnah, dan segala perbuatan ma’ruf, berkata, "Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)"

_(HR. Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad dari riwayat Al-Bara’ ibn ‘Azib & Himpunan Fadhilah Amal:609)_

Dalam hadist lain dikatakan juga bahwa Al-Qur'an akan menjelma menjadi "seseorang" pria tampan yg selalu menjaga kita, memeluk kita, melindungi kita. Ia akan datang saat tubuh kita mulai dikafankan hinggalah ke alam barzah dan hari kebangkitan. Al-Qur'an akan memperkenalkan dirinya pada si mayit sehingga ia merasa tenang dan tidak ketakutan di alam kubur. Sosok Al-Qur'an tak mau melepaskan diri dan tak mau dipisahkan dengan kita hingga Allah memasukkan kita ke dalam syurga.
_(Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah)_

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah bersabda,

"Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat selain daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.”
_(Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)_

Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa ibu bapa ku, keluarga ku,saudaraku dan sahabat-sahabatku dan jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. 

Aamiin ya Rabbal'alamin.

Sumber dari   Abu Shafaa Al-Ichwan_

Share:

Benarkah Tahlilan Bukan dari Agama Hindu ...?

 Lana A'maluna Walakum A'malukum  kita beda amalan tapi tetap bersaudara yaitu saudara seiman dan seagama ( Islam )

DALIL T A H L I L A N
Teernyata bukan japlakan  kitab Hindu,Inii dalil simak baik baik saudara seiman ... !
3 hari
 7 hari
25 hari 
40 hari
100 hari
1000 Hari

Tak henti-hentinya Perbendaan antar umat islam  beda pendapat atau mungkin belum tahu dasarnya tapi sudah menyalahkan Amaliyah muslim lainnya, khususnya di Indonesia ini. Salah satu yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah sebagian golongan muslim yang lain.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh di hari ke tujuh akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya lalu sedekah dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan ?

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎما، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ
rizqi yang  halal dan berkah adalah
TAHLILAN

Wallohu a’lam Bishshowab
Sumber di kutip dari : www.dutaislam.com  26 - Juli - 2018
Share:

- Niat, Bacaan, dan Tata Cara Salat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018



 Jakarta Di tanggal 28 Juli 2018 nantinya akan muncul sebuah fenomena alam yakni gerhana bulan. Dan Indonesia menjadi wilayah yang beruntung di mana gerhana bulan bisa terlihat secara sempurna.
Di balik fenomena alam gerhana bulan yang akan terjadi, tentu tersimpan kebesaran dari Allah. Oleh karena itu bagi mereka yang beragama Islam sangatlah disarankan untuk melakukan shalat gerhana bulan. Hal ini sendiri sudah tertulis dalam hadits dari Al-Mughirah dalam kitab Bulughul Maram No. 526 yang berbunyi:

Paada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru, terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdo’alah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.”
Allah sendiri pun berfirman bahwa," Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim). Sehingga dari hadits tersebut pun disimpulkan bahwa shalat gerhana bulan hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) baik bagi laki-laki maupun untuk perempuan.

Waktu shalat gerhana bulan

Waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan sebaiknya dilakukan sejak dimulainya gerhana atau ketika bulan tertutupi hingga gerhana berakhir alias bulan terlihat seperti kondisi normal.
Shalat gerhana bulan sebenarnya boleh dilakukan sendiri atau tanpa perlu pergi ke masjid. Namun sangat disarankan untuk melakukannya secara berjama'ah karena Rasulullah dahulu mengerjakannya secara berjamaah di masjid, dengan khutbah atau tanpa khutbah.
Shalat gerhana bulan ini dikerjakan 2 rakaat dengan dalam setiap rakaat terdapat dua kali ruku'. Aisyah radhiyallahu'anha pun meriwayatkan, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya saat shalat gerhana bulan, beliau shalat empat kali ruku’ dan empat kali sujud." (HR. Bukhari)
Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah pun menjelaskan bahwa sebelum shalat gerhana bulan dimulai, hendaklah muadzin mengumandangkan lafadz “ash shalaatu jaami’ah.”

Niat shalat gerhana bulan

Sebelum melakukan shalat gerhana bulan, ada baiknya untuk membaca niat shalat gerhana bulan berikut ini:
- Jika menjadi imam shalat gerhana bulan:
Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala."
- Jika menjadi makmum shalat gerhana bulan:
Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala."
- Jika melakukan shalat gerhana bulan sendirian:
Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini lillahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala."

Tata cara shalat gerhana bulan

Setelah membaca niat shalat gerhana bulan, maka berikutnya adalah melakukan shalat gerhana bulan tersebut dengan tata cara berikut ini seperti yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber (25/7):
1. Takbiratul Ihram.
2. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan surat yang panjang.
3. Ruku’. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.
4. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya.
5. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktunya lebih pendek dari ruku’ pertama.
6. I’tidal.
7. Sujud.
8. Duduk di antara dua sujud.
9. Sujud kedua
10. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya
11. Ruku’. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.
12. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
13. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktu ruku’ lebih pendek dari ruku’ pertama.
14. I’tidal.
15. Sujud.
16. Duduk di antara dua sujud.
17. Sujud kedua.
18. Duduk Tahiyah akhir.
19. Salam.
Begitu salam selesai diucapkan, maka sangat disunahkan untuk berdoa setelah shalat gerhana bulan. Sebabnya di waktu setelah shalat gerhana bulan adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa.

Doa setelah shalat gerhana bulan

Berikut adalah doa yang harus diucapkan setelah shalat gerhana bulan:
“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepadaNya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seeorang. Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i shahih).
Setelah doa shalat gerhana bulan selesai dikumandangkan, maka ada baiknya untuk ditutup dengan khutbah. Khutbah tersebut hendaknya berisikan untuk selalu mengingat kebesaran Allah yang Maha Kuasa, bertaubat atas segala dosa yang dilakukan, motivasi untuk selalu melakukan hal yang positif seperti sedekah, berdoa, dan beristighfar sebagai upaya agar selalu berada di jalan Allah SWT.

Di Kutip Dari www.merdeka.com
Share:

- Ustaz Somad Ditolak Khotbah, Panitia: Kami Justru Untung


Ustaz Somad Ditolak Khotbah, Panitia: Kami Justru Untung

"Kami panitia bersama, izin sudah dikantongi."


Rencana tablig akbar pengkhotbah beken Abdul Somad di Semarang, Jawa Tengah, mendapat penolakan dari warga yang tergabung dalam Patriot Garuda Nusantara. Namun, penolakan itu justru ditanggapi santai oleh panitia acara.

"Kami dua kali mengadakan acara besar dan pernah ditentang juga, tapi izin kepolisian tetap membolehkan, bahkan diberi pengamanan saat acara," kata Ustaz Siswanto, penanggungjawab acara di Masjid Jami Jatisari BSB Mijen Semarang, Kamis (26/7/2018).
Ia menuturkan, masjid yang dikelolanya adalah tempat ketiga bagi safari khotbah Ustaz Somad di Semarang. Acara itu sendiri rencananya digelar pada 31 Juli.

"Kami panitia bersama, izin sudah dikantongi, bahkan mediasi antara Polrestabes Semarang dan PGN sudah dilakukan Rabu (25/7) kemarin. Intinya, pihak kepolisian masih memberikan izin," terang Siswanto.

Namun, ia mengakui, penolakan itu justru menguntungkan pihaknya. Dia merasa ikut dipromosikan haul akbar itu. Banyak rekan daerah menghubunginya setelah surat edaran PGN itu marak diberitakan.

"Dari Solo, Jakarta, Klaten, Boyolali menghubungi saya, mereka malah antusias mau ikut datang dengan rombongan beberapa bus jemaah," katanya.
Diwartakan sebelumnya, tablig akbar Ustaz Abdul Somad dalam tiga lokasi di Semarang pada 30-31 Juli 2018 ditolak organisasi Patriot Garuda Nusantara (PGN) Jawa Tengah.

Surat tersebut ditandatangani Panglima Tertinggi PGN Nuril Arifin Husein, serta Ketua PGN Jawa Tengah, Mohammad Mustofa Mahendra. Surat itu juga ditembuskan ke Pangdam IV Diponegoro, Kapolrestabes Semarang, PGN Pusat dan beberapa unsur lainnya.

"Saya menyayangkan panitia penyelenggara, lebih memilih mengundang Somad, kan masih banyak dai kondang lain di Jawa Tengah. Ada Gus Yusuf, Habib Luthfi dan tokoh-tokoh NU lain," ujar Musthofa, Ketua PGN Jawa Tengah.

Alasan penolakan kehadiran Abdul Somad, Musthofa menuding ustaz kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara itu sebagai corong organisasi yang dibubarkan pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia. 

dikutip dari sumber : www.Suara.com  

Reza Gunadha

[Adam Iyasa]
Share:

- Makan Daging Anjing Haram ....? Ini Penjelasannya



Hukum Penjelasan Makan Daging Anjing .

Saat ini, begitu seringnya kita menyaksikan dan mendengar orang yang memelihara anjing. Bahkan sebagian orang memperlakukannya dengan istimewa melebihi manusia, tidur bersamanya dan diberi makanan melebihi makanan manusia. Padahal, memelihara anjing tanpa satu kebutuhaan, seperti untuk menjaga rumah, kebun, hewan ternak dan berburu tidak diperbolehkan. Hal ini dijelaskan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
مَنِ اقْتَنَى كَمبًا إِلاَّ كَلْبَ مَا شِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمِ قِيْرَاطُ
Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud).” [1]
‘Abdullâh mengatakan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.”
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَيُّمَا أَهلِ دَارٍ اتَّخَذُواكَلْبُا إِلاَّ كَلْب مَا شِيَةٍ أَوْ كَلبَ صَا ئِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيْرَاطَانِ
Penghuni rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirâth.[2]
Demikian juga Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيْرَاطُ إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ اَوْ مَا شِيَةٍ
Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan shalehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qirâth, selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak. [3]
Ibnu Sîrîn rahimahullah dan Abu Shâleh rahimahullah mengatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan.
إِلاَّ كَلْبَ غَنَمٍ أَوْ حَرْثٍ أَوْ صَيْدٍ
Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu
Abu Hâzim rahimahullah mengatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَا شِيَةٍ
Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” [HR. al-Bukhâri]
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنِ اقْتَنَى كَمبًا إِلاَّ كَلْبَ مَا شِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْم قِيْرَاطَانِ ٍ
Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau pemburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud).” [HR. Muslim 2940]
Iman An-Nawâwi rahimahullah memandang haramnya memelihara anjing dengan membuat bab dari kitab Riyâdhush-Shâlihîn, bab Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman. [4]
NAJISNYA AIR LIUR ANJING
Air liur anjing adalah najis berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِ كُم فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ
Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka tumpahkanlah, lalu cucilah 7 kali. [5]
Dalam riwayat lain:
طَهُروْرُ إِنَاَءِ أَحَدِكُمْ إَِّا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sucinya bejana kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” [HR Muslim no. 420 dan Ahmad 2/427]
Jumhur ulama berpendapat bahwa air liur anjing itu najis, bahkan sebagian Ulama memandang levelnya adalah mughallazhah (najis yang berat). Sebab, untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.
Prof. Thabârah dalam kitab Rûh ad-Dîn al-Islâmi menyatakan, “Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu’jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului kedokteran modern. Kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia.[6]
HUKUM JUAL BELI ANJING
Tidak diperbolehkan menjual anjing dan hasil penjualannya pun tidak halal, baik itu anjing penjaga, anjing untuk berburu atau lainnya.[7] Yang demikian itu didasarkan pada apa keumuman hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:
أََنَّ رَسُو لَاللَّهِ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلوَانِ الْكَا هِنِ
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun. [8]
HUKUM MEMAKAN ANJING
Mayoritas Ulama mengharamkan makan daging anjing, walaupun disembelih secara syar’i, apalagi bila dibunuh dengan cara-cara yang melanggar syari’at. Ada beberapa argumen yang disampaikan mereka berkenaan dengan keharaman daging anjing ini.
1. Anjing termasuk golongan As-Siba’ (hewan buas) yang memiliki taring untuk memangsa korbannya. Padahal Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya dalam beberapa hadits, di antaranya:
a). Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كُلُّ ذِينَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامُ
Semua yang memiliki gigi taring dari hewan buas maka memakannya haram. [9]
b). Hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi:
أََنَّ رَسُو لَاللَّهِ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم نَهَى عَن أَكْلِ كُلِّ ذِيْنَابٍ مِنْ السِّبَاعِ ِ
Sesungguhnya Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan semua hewan buas yang bertaring. [10]
Berdasarkan hadits-hadits ini, maka harimau, singa, serigala, dan anjing haram dimakan.
2. Adanya larangan memanfaatkan hasil penjualan anjing, menunjukkan keharaman mengkonsumsi dagingnya, sebagaimana disampaikan dalam hadits yang berbunyi:
إَنَّ رَسُو لَاللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وضحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun. [11]
Jika harganya terlarang, maka dagingnya pun haram. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِم ثَمَنَهُ
Sesungguhnya jika Allah mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu maka (Allah) haramkan harganya atas mereka”. [12]
3. Ayat yang menerangkan pembatasan hewan yang diharamkan yaitu firman Allah Azza wa Jalla :
قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah, “Tiadalah aku memperoleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[al-An’âm/6:145]
Adalah Makiyah, yang turun sebelum hijrah, bertujuan untuk membantah orang-orang jahiliyah yang mengharamkan al-Bahîrah, as-Sâ‘ibah , al-Washîlah dan al-Hâm. Kemudian setelah itu Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya mengharamkan banyak hal, seperti daging keledai, daging bighâl, dll. Termasuk di dalamnya semua hewan buas yang bertaring.
Ayat di atas tidak lain hanyalah memberitakan bahwa tidak ada di waktu itu yang diharamkan kecuali yang disebutkan dalam ayat tersebut. Kemudian baru turun setelahnya wahyu yang mengharamkan semua hewan buas yang bertaring, sehingga wajib diterima dan diamalkan.
Syaikh Prof. DR. Shâlih bin ‘Abdillâh al-Fauzân merâjihkan pengharaman semua hewan buas yang bertaring, beliau menukilkan pernyataan Syaikh Muhammad al-Amien asy-Syinqiti yang menyatakan, “Semua yang sudah jelas pengharamannya dengan jalan periwayatan yang shahîh dari al-Qur ‘ân atau Sunnah, maka hukumnya haram dan ditambahkan empat yang diharamkan dalam ayat tersebut. Hal ini tidak bertentangan dengan al-Qur‘ân, karena sesuatu yang diharamkan di luar ayat tersebut dilarang setelahnya. Memang pada waktu turunnya ayat itu, tidak ada yang diharamkan kecuali empat tersebut Pembatasannya sudah pasti benar ada sebelum pengharaman yang lainnya. Apabila muncul pengharaman sesuatu selainnya dengan satu perintah yang baru, maka hal itu tidak menafikan pembatasan yang pertama. [13]
Kebenaran pendapat yang mengharamkan ini dikuatkan juga dengan tinjauan medis bahwa anjing memiliki cacing pita yang berbahaya bagi manusia. Ditambah lagi air liur anjing yang najis, sehingga setidaknya anjing meminum air liurnya yang najis dan mempengaruhi dagingnya.
Padahal Rasululâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memakan daging hewan yang mengkonsumsi najis dan kotoran, sebagaimana dalam hadits yang berbunyi:
نَهَى رَسُوْلُاللَّه صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَلَةِ وَأَلْبَانِهَا
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan hewan al-Jalâlah (pemakan najis dan kotoran) dan susunya. [14]
Dengan demikian sangat jelas sekali keharaman daging anjing. Apalagi, realitanya banyak orang yang memakan daging anjing yang tidak disembelih secara syar’i. Semoga ini semua dapat membantu menjelaskna permasalahan yang selama ini muncul di masyarakat mengenai keharaman anjing.
REFERENSI
1) Bahjatun-Nâzhirîn Syarh Riyâdhus-Shâlihîn, Sâlim bin Ied al-Hilâli, Dâr Ibnul-Jauzi.
2) Kitâbul-Ath’imah Syaikh Shâlih bin Fauzân, Maktabah al-Ma’ârif.
3) Shahîh Fikih Sunnah, Abi Mâlik Kamâl bin as-Sayyid Sâlim, Maktabah Taufîqiyah, Mesir
4) Taudhîhul-Ahkâm Syarh Bulûghul-Marâm, Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân Ali Bassâm, Maktabah al-Asadi, Mekah.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. HR. Muslim no. 2941
[2]. HR. Muslim no. 2945
[3]. HR Muslim no. 2949
[4]. lihat BahjatunNâzhirîn 3/187
[5]. HR al-Bukhâri no 418, Muslim no. 422.
[6]. Taudhîhul-Ahkam, Syaikh Ali Bassâm, 1/137
[7]. Fatawâ al-Lajnah Ad-Dâ-imah Lil Buhûts al-Ilmiyah Wal Iftâ‘, Pertanyaan ke-1 dari Fatwa no. 6554
[8]. Diriwayatkan oleh Imam, Ahmad 4/118-119, 120, al-Bukhâri 7/28 dan Muslim no. 1567.
[9]. HR Muslim 1933
[10]. HR Muslim no. 1934
[11]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri 3/43 dan Muslim 3/198 no 1567 serta Abu Dâwud 3/753 nomor 3481. at-Tirmidzi 3/439
dan an-Nasâ-i 7/309 no. 4666
[12]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/247, 293 dan 322 dan Abu Dawud no.3488
[13]. Kitâbul-Ath’imah hlm 56-60.
[14]. HR at-Tirmidzi no. 1747.


Sumber: https://almanhaj.or.id/3119-daging-anjing-halal.html
Share:

Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah
Klik Gambar Cari Tiket

TIKET KERETA API MURAH

TIKET KERETA API MURAH
Klik Gambar Untuk Cari Tiket

CARI HOTEL MURAH

CARI HOTEL MURAH
klik Gambar Untuk Cari Hotel

BUS TRAVEL

BUS TRAVEL
Klik Gambar Untuk Cari Bus Travel

Rent Car dan Penjeputan Bandara

Rent Car dan Penjeputan Bandara
Klik Gambar Untuk Mencari

PAKET UMROH

PAKET UMROH
Klik Gambar Umroh Untuk Info Detail

Popular Posts

Hot News

Hadist Tentang Ibadah Udhiyah

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : من كان له سِعَةٌ ولم يُضَحِّ فلا يَشهدْ مصلَّانا ...

Recent Posts