Blog Berisi Syariat agama Islam ,kajian Islam,Sholat,Puasa,Zakat,Qurban Sejarah Nabi,Tafsir Ibnu Katsir,Al Hadist,Berita, dan Lowongan Kerja.

- Hukum Makan daging Tupai ...?

Berburu adalah aktivitas yang cukup mengasyikkan bagi para lelaki, di samping aktivitas ini memang merupakan bagian dari sunnah. Di wilayah Jawa dan Sumatera, salah satu binatang yang kerap diburu adalah tupai. Beberapa waktu lalu, ada teman yang masih ragu tentang hukum makan daging tupai dari hasil buruannya. Apakah boleh dimakan atau tidak?
Para ulama fikih telah menjelaskan hukum makan daging tupai. Seperti biasa, ada perbedaan pendapat di antara mereka. Wajar, pembahasan ini termasuk ranah Ijtihad Ulama. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan simpulan terhadap sifat binatang yang melekat pada binatang tupai, apakah sifat-sifat tersebut bisa diqiyaskan dengan ciri-ciri binatang yang diharamkan ataukah tidak, mengingat tidak ada nash yang secara jelas dan sharih tentang status hukumnya.

Pendapat Haram Makan Daging Tupai

Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, hukum makan daging tupai adalah haram. Menurut mereka, letak keharaman bintang ini, karena tupai termasuk binatang bertaring yang digunakan untuk memburu mangsanya. (Fiqh ‘Ala al-Mazhahib al-Arba’ah, 2/9)
Abu Yusuf, salah satu Ulama mazhab Hanafi menyebutkan, “Tupai tidak boleh dimakan karena bertaring sehingga masuk dalam keumuan hadits Nabi yang mengharamkan semua binatang yang bertaring.” (Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq, Fakhruddin Utsman bin Ali az-Zaila’i, 16/265)

Syaikh Abdullah al-Faqih menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat soal hukum bolehnya makan daging tupai, sementara sebagian lainnya berpendapat haram karena ia memangsa dengan taringnya. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah. Adapun menurut Malikiyah, makan daging tupai hukumnya makruh. (Ensiklopedi Halal Haram Makanan, Yazid Abu Fida’, 174-176)
Syaikh Zainul Abidin bin Muhammad Ballafrij, salah seorang ulama Andalus, juga berpendapat tidak boleh makan daging tupai. Beliau memahami bahwa tupai termasuk dalam marga tikus, sehingga binatang ini dihukumi sama seperti tikus yang beliau nyatakan tidak boleh dimakan karena binatang yang menjijikkan, kotor, dan bau.

Pendapat Mubah Makan Daging Tupai

Sedangkan menurut ulama dari kalangan mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki, hukum makan daging tupai adalah mubah. Ulama mazhab Syafii beralasan, meskipun tupai itu bertaring namun taringnya lemah dan tidak digunakan untuk memangsa. (Asna al-Mathalib Syarh Raudh ath-Thalib, 7/155) Sementara ulama mazhab Maliki berdalil dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
“Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi— karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”(QS. Al-An’am: 145)

Menurut mereka, daging binatang buas tidak termasuk yang diharamkan dalam ayat tersebut, sehingga hukumnya mubah. Adanya larangan memakan setiap binatang yang bertaring maka mereka memahaminya dengan makruh. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 5/134)
Menurut imam an-Nawawi, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Khalil, dan al-Mawardi, pendapat yang rajih adalah makan daging tupai adalah boleh, dagingnya halal. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, 8/210)
Pertanyaan serupa juga pernah saya tanyakan langsung kepada salah seorang Ulama Sudan, Syaikh ash-Shadiq Abu Abdillah al-Hasyimi via pesan tertulis. Beliau menjawab,
“Pokok hukum dari makanan adalah halal, kecuali jika ada dalil shahih dan sharih yang menunjukkan keharamannya, termasuk di dalamnya tupai (sinjab).”

Beliau menukil beberapa pernyataan para Ulama Fikih. Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Tentang Sinjab (tupai) sebagian sahabat kami berpendapat, “Tupai tidak termasuk binatang buas/pemangsa, makanannya adalah tumbuhan/biji. Binatang ini tidak berburu, sama halnya kelinci. Maka, tidak masalah mengonsumsi daginya dan memanfaatkan kulitnya. Kami juga telah meriwayatkan dari Ibnu Mubarak tentang pertanyaan yang diajukan kepada beliau terkait dengan tupai (sinjab) ini. Beliau berkata, “Pemburunya mengabarkan kepadaku bahwa ia biasa memburunya.”

Abu Bakar rahimahullah berkata, “Pernyataan ini tidak penting, sebab informan yang mengabarkan tidak jelas identitasnya, sangat mungkin sekali para pemburu itu memburu binatang yang boleh dimakan atau sebaliknya, memburu binatang yang tak boleh dimakan. Menurut saya, tupai yang boleh dimakan adalah tupai yang disembelih. Sebab, dalam beberapa kasus tidak ada toleransi untuk manusia hingga bahwa binatang itu termasuk binatang yang diharamkan untuk mereka.” (Al-Ausath, 2/316)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun binatang Samur (berang-berang), sinjab (tupai), Fanak (serigala kecil), dan Qaqum (sejenis musang), ada dua pendapat: pendapat yang shahih bahwa binatang tersebut halal; pendapat kedua, binatang tersebut haram.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 9/12

Ibnu Qudamah berkata, “Adapun tentang sinjab (tupai), Al-Qadhi berpendapat, ‘Binatang tersebut hukumnya haram, sebab dia menerkam dengan gigi taringnya, mirip dengan tikus. Tapi, ada kemungkinan binatang itu mubah, sebab dia mirip juga dengan Yarbu’ (sejenis tupai loncat). Di saat terjadi keraguan antara hukum ibahah (mubah) dan tahrim (haram), maka yang dimenangkan adalah ibahah (mubah), sebab itu adalah pokok hukumnya, yang diperkuat dengan dalil umum.” (Al-Mughni, 9/329)

Berdasarkan keterangan di atas menurut Jumhur Ulama, daging tupai adalah halal, makan daging tupai adalah boleh. Meskipun tupai memiliki taring, namun taring tupai itu lemah dan tidak digunakan untuk memburu mangsanya.

Jika Hukum Makan Daging Tupai Itu Mubah, Berarti Boleh Jual Beli Tupai?

Markaz lembaga fatwa menjelaskan bahwa segala sesuatu dapat dijualbelikan dengan syarat komoditi yang ingin dijual statusnya mubah; secara manfaat, bukan dalam kebutuhan kondisi terdesak.
Penulis kitab Zadul Mustaqni’ menyebutkan bahwa salah satu syarat sah jual beli adalah,
وأن تَكُونَ العَيْنُ مُبَاحَةَ النَّفْعِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ
“Hendaknya barang (yang akan dijual) hukum kemanfaatannya adalah mubah dalam kondisi tidak terdesak.” (Syarh Zadul Mustaqni’, Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, 2/144)

Maksudnya, komoditi yang hendak dijualbelikan harus benar-benar memiliki kemanfaatan yang hukumnya mubah secara penuh. Hukum mubahnya tidak terikat dengan kondisi dan situasi terdesak.
Berdasar uraian sebelumnya, karena hukum makan daging tupai itu mubah untuk dimakan, maka jual beli binatang tupai pun juga mubah (boleh), baik dijual sebagai makanan ataupun untuk diambil manfaat lainnya, dengan tetap memerhatikan kaidah-kaidah jual beli secara syar’i.

Lana A'maluna Walakum A'malukum..
 Wallahu a’lam Bishowab

Sumber diambil dari www.dakwah.id
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah
Klik Gambar Cari Tiket

TIKET KERETA API MURAH

TIKET KERETA API MURAH
Klik Gambar Untuk Cari Tiket

CARI HOTEL MURAH

CARI HOTEL MURAH
klik Gambar Untuk Cari Hotel

BUS TRAVEL

BUS TRAVEL
Klik Gambar Untuk Cari Bus Travel

Rent Car dan Penjeputan Bandara

Rent Car dan Penjeputan Bandara
Klik Gambar Untuk Mencari

PAKET UMROH

PAKET UMROH
Klik Gambar Umroh Untuk Info Detail

Popular Posts

Hot News

Hadist Tentang Ibadah Udhiyah

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : من كان له سِعَةٌ ولم يُضَحِّ فلا يَشهدْ مصلَّانا ...

Recent Posts