Blog Berisi Syariat agama Islam ,kajian Islam,Sholat,Puasa,Zakat,Qurban Sejarah Nabi,Tafsir Ibnu Katsir,Al Hadist,Berita, dan Lowongan Kerja.

- Diancam Dibunuh, Politikus Belanda Anti Islam Batalkan Lomba Kartun Nabi



Hamburg – Politikus anti Islam sekaligus anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, Kamis (30/08), akhirnya membatalkan rencana lomba melukis kartun Nabi Muhammad. Pembatalan itu setelah ia mengaku mendapat ancaman pembunuhan.
Wilders sendiri mengumumkan niatnya menggelar lomba menulis kartun Nabi Muhammad pada Juli lalu. Menurun rencana, lomba yang berhadiah ratusan dolar itu digelar akhir tahun ini.
Namun Associated Press (AP) melaporkan pada Kamis bahwa Wilders telah membatalkan kompetisi itu setelah menerima ancaman pembunuhan dan kemungkinan pihak lain juga menjadi sasaran.
“Untuk menghindari bahaya korban kekerasan Islam, saya memutuskan untuk tidak jadi menggelar kontes kartun,” kata Wilders seperti dinukil AP.
Dalam pernyataan itu, Wilders mencatat bahwa ancaman tidak hanya menargetkannya “tetapi seluruh Belanda.”

Sehari sebelumnya, polisi Belanda mengumumkan penangkapan seorang pria muda atas tuduhan merencanakan pembunuhan Wilders. Aksi itu dilakukan atas kompetisi yang akan digelar Wilder.
Pria berusia 26 tahun itu diyakini sebagai orang Pakistan.
Pengumuman lomba menghina Islam ini telah memicu protes dan reaksi marah dari dunia Muslim. Ribuan warga Pakistan turun ke jalan menyeru pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda. Gerakan Taliban di Afghanistan juga menyeru meluncurkan serangan menargetkan Belanda untuk melawan penghinaan itu.
Selasa lalu, Organisasi Konferensi Islam (OKI) juga mengecam apa yang digambarkan sebagai “rencana jahat” Wilders. Oki meminta pemerintah Belanda mengambil langkah-langkah segera untuk mencegah kemarahan umat Islam.
Wilders memimpin partai politik terbesar kedua di Belanda. Partainya memenangkan 20 dari 150 kursi di parlemen dalam pemilihan umum Maret 2017.

Baca Juga Indonesia kecam rencana kontes kartun Nabi Muhammad saw di belanda
Baca Juga Waspada Istidroj Semoga Kita Tidak Tergolong Istidroj


Sumber: Anadolu Agency
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Share:

- Masih Suka Minum Alkohol ...? Alkohol Jadi Faktor Utama Kematian dan Penyakit di Seluruh Dunia


Foto: Ilustrasi

Alkohol menjadi penyebab utama kematian dan penyakit di seluruh dunia. Menurut Global Burden of Disease yang dipublikasikan di The Lancet, hampir satu dari 10 kematian pada orang yang berusia 15-49 tahun terkait alkohol. Penelitian dilakukan di 195 negara antara tahun 1990 hingga 2016.
Berdasarkan analisis mereka, tidak ada tingkat alkohol yang aman. Karena setiap manfaat alkohol bagi kesehatan melebihi dampak buruknya pada aspek kesehatan lainnya, terutama kanker.
Mereka memperkirakan bahwa, selama satu tahun, pada orang yang berusia 15-95 tahun, minum satu minuman beralkohol sehari dapat meningkatkan risiko terkena salah satu dari 23 masalah kesehatan terkait alkohol sebesar 0,5%, dibandingkan dengan mereka yang tidak minum alkohol sama sekali.

Alkohol memiliki hubungan yang kompleks dengan kesehatan, yang memengaruhi berbagai hal. Konsumsi secara teratur minuman beralkohol memiliki efek buruk pada organ dan jaringan, keracunan akut dapat menyebabkan cedera atau keracunan, dan ketergantungan alkohol dapat menyebabkan keracunan yang sering, menyakiti diri sendiri atau kekerasan.

“Penelitian sebelumnya telah menemukan efek perlindungan alkohol pada beberapa kondisi, tetapi kami menemukan bahwa risiko kesehatan gabungan yang terkait dengan alkohol meningkat dengan kadar alkohol apa pun. Secara khusus, hubungan kuat antara konsumsi alkohol dan risiko kanker, cedera, dan penyakit menular mengimbangi efek protektif untuk penyakit jantung iskemik pada wanita dalam penelitian kami. Meskipun risiko kesehatan yang terkait dengan alkohol mulai menjadi kecil dengan satu minuman sehari, kemudian meningkat dengan cepat ketika orang minum lebih banyak,” kata penulis utama Dr Max Griswold, Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan, Universitas Washington, AS.

“Kebijakan yang berfokus pada pengurangan konsumsi alkohol ke tingkat terendah menjadi penting guna meningkatkan kesehatan. Pandangan luas tentang manfaat kesehatan dari alkohol perlu direvisi. Terutama sebagai metode perbaikan dan analisis dengan banyaknya konsumsi alkohol berkontribusi terhadap kematian dan cacat global,” tambahnya.

Baca Juga Indonesia kecam rencana kontes kartun Nabi Muhammad saw di belanda
Baca Juga Punya Lidah Tapi Tak Punya Hati Nurani
Baca Juga Ternyata Dikubur bisa ngajak teman

Share:

- Kata MUI Pusat Soal Isu Pemurtadan di Lombok


Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Kajian KH. Maman Abdurrahman menyarankan pihak keagamaan terkait untuk menghentikan pemurtadan atau kristenisasi terhadap korban gempa di Nusa Tenggara Barat. 

“Kita memang sedang dilanda musibah besar yaitu dengan adanya gempa, tapi ternyata ada kelompok tertentu sudah menyalahi kesepakatan tentang perlunya ada kebersamaan membangun Indonesia yaitu dengan tidak mengganggu keyakinan keagamaan,” ungkap Maman Abdurahman di Gedung MUI, Selasa (28/08/2018).
Mantan ketua umum Persis ini mengatakan, jika kristenisasi benar terjadi, sudah seyogyanya pihak keagamaan terkait menghentikan kegiatan tersebut.

“Kalau memang dari grupnya atau dari pihak keagamaanya melakukan pemurtadan, minta mereka untuk menghentikan program pemurtadan atau kristenisasi. Kalau mau membantu, bantulah tapi sebagai bangsa, satu bangsa, walaupun bukan satu agama, satu tanah air yang perlu dibantu,” ujar Ketua Dewan Penasihat Persis ini.
Maman mengaku MUI sangat tidak senang dengan adanya kabar pemurtadan ini. Ia pun menceritakan tentang kasus Tsunami Aceh, di mana ditemui banyak pemurtadan terhadap masyarakat miskin yang terkena bencana.
“Karena masalah makanan dan minuman, mereka pindah agama. Kita dalam Islam itu sudah jelas tidak ada pemaksaan dalam agama, maka sebagaimana yang sudah beredar di sosial media, itu sangat tidak dibenarkan, memurtadkan apalagi mengajak pindah agama,” ujarnya.
Nanti dari MUI secara resmi akan disampaikan, bagaimana MUI harus menyampaikan terhadap pihak keagamaan terkait.



Ia mengungkapkan, sebenarnya sudah ada kesepakatan antara pemuka agama di Indonesia, untuk melakukan langkah bersama, tentang keberagaman beragama.
“Sudah ada kesepakatan yang diadakan pihak Prof Din mengenai pentingnya kebersamaan di Indonesia, jangan sampai ada permusuhan, memang ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di dalam Islam tidak akan terjadi, karena dilarang, tidak ada paksaan, jika memang tidak mau, ya sudah. Biarkan keyakinan masing-masing,” tegasnya.
Maman melanjutkan, memang dalam kondisi musibah bencana, selalunya kekurangan bahan makanan. Terlebih lagi, dalam kasus NTB, pemerintah belum menetapkan musibah ini sebagai bencana nasional.
“Kita tidak tau apa sebabnya tidak disebut bencana nasional. Tapi yang terpenting, baik bencana nasional maupun bencana lokal orang perlu dibantu, bantulah. Karena itu masyarakat muslim, ormas Islam, termasuk di MUI melakukan hal-hal yang sangat diperlukan, tidak melihat agamanya apa, tapi bagaimana sisi kemanusiaannya, apalagi jika dilihat aspek agama, tolong menolonglah dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam kerusakan,” tegasnya.
Ia kembali mengatakan bahwa dalam agama Islam, bukan hanya manusia saja yang ditolong, hewan dan tumbuhan juga ditolong. Sehingga kedatangan relawan ke korban bencana adalah dalam rangka saling tolong-menolong.
“Datang ke sana kan dalam rangka tolong menolong, kalau dalam Islam, jangankan manusia yang ditolong tanpa melihat agama dalam sebuah bencana atau musibah, binatang saja, kalau mau minum, kasih minum, kasih makan,” pungkasnya.

MUI Akan Lakukan Kroscek ke Lapangan
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin menekankan pentingya etika dalam kerukunan beragama. Ia menyarankan kepada seluruh pihak untuk tidak mengambil keuntungan dalam bencana gempa di Nusa Tenggara Barat, termasuk soal keagamaan.
“Sebaiknya jangan dari kelompok agama yang menari di air keruh untuk melakukan pemurtadan,” ungkap Din di Gedung MUI pada Rabu (28/08/2018).

“Pemurtadan itu bertentangan dengan etika kerukunan umat beragama yang telah disepakati dalam musyarawah besar pemuka agama untuk kemananan bangsa pada bulan Februari yang lalu,” lanjutnya.

Baca Juga , Masih Suka Minum Alkohaol ...? Alkohol Suber Permasalahan dan Penyakit


Mantan ketua umum MUI ini mengungkapkan bahwa dirinya masih mencari fakta tentang kristenisasi di Lombok yang sudah banyak beredar di sosial media. Ia mengaku belum melihat langsung maupun mendapat informasi terkait kristenisasi.
“Sebagai orang NTB, sudah dua tiga kali saya ke sana, saya belum melihat langsung, belum mendapat informasi. Tapi sering terjadi ketika bencana seperti ini, lembaga-lembaga kemanusiaan keagamaan dari masing-masing agama datang untuk membantu,” ungkapnya.
Atas bantuan itu, Din mengungkapkan, sering terjadi kesan penyiaran agama tertentu terhadap korban bencana.

“Sering itu, tidak terelakkan, kesan seperti penyiaran agama, saya sedang fact finding, apakah betul itu terjadi penyebaran agama tertentu yang secara sistematis memanfaatkan keadaan pengungsi yang berkesusahan itu untuk kemudian ditarik ke agamanya,” ungkapnya.

Baca Juga Punya Lidah Tapi Tak Punya Hati Nurani





Sumber Dari www.kiblat.net
Share:

Hadist ke 13 Diantara Kesempurnaan Iman

Diantara Kesempurnaan Iman Dalam Hadist Arbain Beserta Penjelasannya.
عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» رواه البخاري ومسلم.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
[Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 13), Shahih Muslim (no. 45), Sunan tat-Tirmidzi (no. 2515), Sunan Ibnu Majah (no. 66), Sunan an-Nasa`i (VIII/115), Musnad Ahmad (III/176, 206, 251, 272, 289), Sunan ad-Darimi (II/307), Musnad Abu Awanah (I/33), dan Musnad Abu Ya’la (no. 2880, 3069, 3171, 3245)



Penjelasan:

Demikianlah di dalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau tetangganya” dengan kata yang menunjukkan keraguan.

Para ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :
“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”.

Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.

Abu Zinad berkata : “Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.

Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?” (tentunya anda tidak akan menasihatinya).

Sebagian ulama berpendapat : “Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu”.
Seperti tersebut pada Hadits lain :
“Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari”

Baca Juga Punya Lidah Tapi Tak Punya Hati Nurani
 Baca Juga Ternyata Dikubur bisa ngajak teman
Share:

- Berlidah Tapi Tak Berhati Nurani

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah mengatakan, bahwa kelak ummat Islam akan berjumpa dengan suatu jenis pemimpin yang mempunyai lidah tapi tidak mempunyai hati.
Pemimpin-pemimpin itu senantiasa berkata dengan bijak, dan mengajak manusia kepada Allah, namun mereka sendiri lari dari Allah.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mensifatkan pemimpin-pemimpin itu sebagai berikut :

لَهُ لِسَانٌ وَ لَا قَلْبٌ. يَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ ، يَدْعُوْنَ النَّاسَ إِلَى اللّٰهِ وَ هُوَ يَفِرُّ مِنْهُ.

_*“Ia mempunyai lidah tetapi tidak memiliki nurani. Ia berbicara dengan bijak bestari. Diajaknya manusia kepada Allah, namun ia sendiri lari menghindari Allah.”*_
Terhadap orang-orang semacam ini kita disuruh meninggalkannya _*(“Fatrukuuh”)*_, kata sang wali, yaitu pemimpin-pemimpin yang hanya mencari keuntungan pribadi.

Seperti yang digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu haditsnya :

يَخْرُجُ فِيْ أٰخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتَلُوْنَ الدُّنْيَا بِالدِّيْنِ يَلْبَسُوْنَ لِلنَّاسِ جُلُوْدَ الضَّعْنِ مِنَ اللِّيْنِ أَلْسِنَتُهُمْ أَخْلٰى مِنَ الْعَسَلِ وَقُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الذِّءَابِ.

_*“Akan muncul di akhir zaman nanti orang-orang yang meraup dunia dengan agama. Mereka berpakaian bulu domba yang halus di depan manusia. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tapi hati mereka bagaikan hati serigala.”*_

Pandangan mereka hanyalah dunia, harta dan keuntungan materi. Hanya membesar-besarkan cuma perut, perut dan perut! Maka harga mereka pun tidak lebih daripada yang keluar dari perut. Najis.

Kata Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu ‘Anhu :

مَنْ كَانَتْ هِمَّتُهُ لِبَطْنِهِ فَقِيْمَتُهُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ

_*“Barangsiapa yang cita-citanya hanya untuk perutnya, maka harganya seperti yang keluar dari perutnya.”*_

Akibatnya manusia senantiasa terlibat dalam huru-hara dan malapetaka.
Di mana-mana bencana, aniaya dan siksa, karena beberapa kedegilan telah dilakukan.

*Pertama*, akibat kekotoran manusia sendiri.
Hati mereka kotor, tangan mereka juga kotor.
Hutan-hutan ditebang membabi-buta.
Tanah diduduki dan digali.
Binatang-binatang diserbu.
Dilalap habis semuanya.
Ularnya, buayanya, tidak perduli yang najis dan yang suci.
Gunung-gunung digunduli, untuk memuaskan nafsu serakahnya.
Laut dinodai dan dikuras tandas, diaduk-aduk sampai ke lubuknya yang paling dalam.

Akibatnya kalau hujan kebanjiran, kalau kemarau kekeringan.

Firman Allah dalam Surah Ar Rum ayat 41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِيْ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

_*"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan keji tangan-tangan manusia belaka.”*_

*Kedua*, karena pengkhianatan manusia terhadap agama.
Mereka berduyun-duyun lari dari jalan kebenaran, jalan Allah.
Syahadat dan Tauhid hanya diucapkan di bibir untuk mencari selamat saja.

Seperti firman Allah dalam Al Quran :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰى أٰمَنُوْا وَاتَّقُوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَ الْأَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.

_*“Andaikata penduduk suatu negeri beriman semua dan bertaqwa, pasti akan kami bukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan dari bumi. Namun mereka itu cuma pendusta, maka kami timpakan bala kepada mereka sesuai dengan apa yang telah dikerjakan.”*_

*Ketiga*, bala’ juga akan tiba bila amanat telah diselewengkan.
Amanat atas kepercayaan, amanat atas keluarga, amanat atas negara, amanat atas kepemimpinan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ إِنْتَظِرِ السَّاعَةَ.

_*“Kalau amanat sudah disia-siakan, maka tunggulah saat kebinasaannya.”*_

Sahabat bertanya :

وَ مَا إِضَاعَتُهَا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ ؟

_*“Bagaimana menyia-nyiakan amanat itu, Ya Rasulullah?!”*_

Nabi menjawab :

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلٰى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

_*“Kalau perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.”*_

Sebab, apabila amanat sudah tidak ditaati, kecurangan akan merajalela, kongkalikong berlangsung terus.
Betapa pun kita berusaha membangun dan membina, yang beruntung hanya segelintir orang, sedang yang terbanyak adalah yang jadi korban.

Kerusuhan sosial, pemberontakan dan pembunuhan akan bercabul dengan hebatnya, disamping bendungan-bendungan jebol dan gedung-gedung roboh.
Semua itu terjadi akibat manusia dengan mudahnya mengkhianati amanat yang telah dipercayakan atasnya.

Dalam kitab Dzurratun Nashihin ada dikatakan :

وَلَوْلَا عَدْلُ الْأُمَرَآءِ لَأَكَلَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا كَمَا أَكَلَ الذِّئْبُ الْغَنَمَ

_*“Andaikata tidak ada keadilan dari para Pemimpin, pastilah sebagian mereka akan memakan sebagian yang lainnya, seperti serigala memakan kambing.”*_

إِنَّمَا أَهْلَكَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ. أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَ إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ . وَ اللّٰهِ وَ الَّذِىْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.

_*“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah telah membinasakan orang-orang sebelum kamu, karena apabila didapati oleh mereka orang berpangkat mencuri dibiarkan saja, tetapi kalau orang kecil yang mencuri dijatuhkanlah hukuman seberat-beratnya. Demi Allah, yang jiwaku berada di dalam kekuasaan tangan-Nya, andaikata Fathimah putri Muhammad sendiri yang mencuri pasti akan kupotong tangannya.”*_

*Kelima*, bala’ akan turun jika ummat Islam telah menjauhkan diri dari para Ulama dan ahli-ahli agama.

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

سَيَأْتِيْ عَلٰى أُمَّتِيْ زَمَانٌ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَآءِ وَ الْفُقَهَآءِ فَيَبْتَلِيْهُمُ اللّٰهُ بِثَلَاثةِ بَلِيَّاتٍ . أُوْلٰهَا يَرْفَعُ اللّٰهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ ، وَ الثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا ، وَ الثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ .

_*“Akan datang suatu zaman atas ummatku, mereka lari dari alim ulama dan para ahli agama. Maka Allah timpakan atas mereka tiga macam bala’. Pertama, akan dicabut keberkahan dari segala hasil usaha mereka. Kedua, akan berkuasa di kalangan mereka pemimpin yang dzhalim. Ketiga, mereka akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa iman.”*_

Memang, manusia kalau sudah membenci para ahli agama, mereka akan jauh dari petunjuk, akan jauh dari nasihat.
Bagi yang jahil tetap jahil, yang sesat makin sesat, dan yang berkuasa jadi sewenang-wenang.
Mereka tidak tahu lagi hukum agama, tidak tahu lagi mana yang benar dan yang salah, mana yang terang dan mana yang remang-remang.
*Keenam*, bala’ juga akan datang jika manusia terlalu loba kepada dunia, dan terlalu takut kepada mati.
Sifat yang pertama, akibat rakusnya akan harta, menjadikan manusia kejam, curang dan licik.
Kalau perlu, merampok, menipu atau menjual kehormatan serta harga diri, semata-mata untuk dunia.
Negara jadi kacau karenanya, masyarakat gelisah dan ketakutan.
Semangat untuk berjuang jadi mengendor, dan berkecamuklah kemerosotan akhlak serta moral.
Yang kedua, rasa takut manusia yang berlebihan kepada mati, dapat menyebabkan mereka jadi kejam pula.
Pedomannya, lebih baik membunuh daripada terbunuh.
Lebih baik jadi pengkhianat daripada gugur di medan perang.
Lenyaplah sifat-sifat keperwiraan.
Semua jadi pengecut, jadi penakut.
Musuh pun dengan leluasa dapat menguasai dan merajalela.
Yang penting asal hidup bagaimana pun caranya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

هَلَاكُ أُمَّتِيْ لِحُبِّ الدُّنْيَا وَ كَرَاهِيَّةِ الْمَوْتِ 

_*“Hancurnya ummatku karena terlalu cinta kepada dunia dan terlalu benci kepada mati.”*_

Kemudian bala’ akan turun jika manusia sudah tidak peduli lagi terhadap keadaan di sekelilingnya, dan masa bodoh atas segala yang terjadi di depan matanya.
Baikkah perangai masyarakat, atau burukkah mereka, masing-masing acuh tak acuh dengan apa yang dilakukan orang lain.

Padahal ummat Islam diberi kehormatan dengan derajat yang paling tinggi apabila ummat Islam sanggup melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110 :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

_*“Adalah kalian sebaik-baik ummat yang dibangkitkan bagi segenap manusia, karena kalian mengajak orang berbuat bsok, mencegah orang berbuat mungkar, dan beriman kepada Allah.”*_

Jika tugas ini sudah ditinggalkan oleh ummat Islam, maka bencana pasti akan tiba seperti firman Allah dalam Surah Al Anfal ayat 25 :

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآصَّةً

_*“Takutlah kalian akan kebinasaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzholim di antaramu saja.”*_
Share:

- Waspada Semoga Kita Tidak Tergolong Orang Yang Istidraj

 

 Istidraj: Ketika Ahlul Maksiat Bergelimang Harta Dunia

 ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., berfirman:

 فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
“Maka Tatkala Mereka Melupakan Peringatan yang telah diberikan kepada mereka, KAMI pun Membukakan Semua Pintu-Pintu Kesenangan Untuk Mereka; Sehingga apabila Mereka Bergembira Dengan Apa yang Telah Diberikan Kepada Mereka, KAMI Siksa Mereka Dengan Sekonyong-Konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. AL-‘AN’ĀM : 44 )
RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassalam., bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Kamu Melihat ALLAH Memberikan Dunia Kepada Seorang Manusia Pelaku Maksiat, Dengan Sesuatu YANG ia (pelaku maksiat) Sukai, Maka Sesungguhnya Itu adalah ISTIDRAJ.”
(HR. AHMAD )

Maka Jangan Silau Dengan Kesuksesan dan Kemegahan Yang Ditampilkan Seseorang.. !!! Maka Waspadalah.. !!! Bisa Jadi Dia Sedang Mengalami ISTIDRAJ.
Dan pada Sagatnya Nanti, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., Tiba-Tiba Mencabut Semua Kenikmatan itu, Tanpa Dia Sadari. !!!

Sebagai Orang Beriman yang Dikasihi ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., maka ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., akan Selalu Menjaga Kita dari Segala Kemaksiatan, Tidak Dibiarkan Dalam Kesesatan. !
Jadi kalau kita sudah Beramal Sholeh, Namun Kita Masih Diberi Ujian / Cobaan, Maka Itulah Tanda Kasih Sayang ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., pada Hamba-Hamba-NYA, Berupa Keringanan Dosa dan Menuju Ampunan-NYA. !


Jika Kita Tidak Segera Melakukan Perbaikan Diri Dengan Menjauhi Mindset Materialisme Dari Dalam Diri Kita, Sehingga Kita Terlena Dengan Kehidupan Dunia Yang Fana ini, Akhirnya Terjebak Istidraj dari ALLAH, Karena Kelalaian Kita Sendiri. Ujung-Ujungnya adalah Musibah dan Kerugian di Akhirat Kelak.!

Baca Juga Punya Lidah Tapi Tak Punya Hati Nurani
 Baca Juga Ternyata Dikubur bisa ngajak teman
APA ITU ISTIDROJ ?
ISTIDROJ itu adalah Azab Yang Diundur- Undur Oleh ALLAH Ta’ala, Namun ALLAH Tetap Memberikan Kita :
1). Harta Yang Berlimpah; Padahal Tidak Pernah Bersedekah. !
2). REZEKI BERLIPAT-LIPAT; Padahal Jarang Shalat, Tidak Senang pada Nasihat Ulama, dan Terus Berbuat Maksiat.. !
3). DIKAGUMI, DIHORMATI; Padahal Akhlak Bejat.
4). DIIKUTI, DITELADANI dan DIIDOLAKAN; Padahal Bangga Mengumbar Aurat Dalam Berpakaian.. !
5). SANGAT JARANG DIUJI SAKIT; Padahal Dosa-Dosa Menggunung dan Membukit. !
6). TIDAK PERNAH DIBERIKAN MUSIBAH; Padahal Gaya Hidupnya Sombong, Meremehkan Manusia, Angkuh dan Bedebah.. !
7). ANAK-ANAK SEHAT-SEHAT, CERDAS-CERDAS; Padahal Diberikan Makan Dari Harta Hasil Yang Haram (Menipu, Korupsi, Riba’, dll )..
8). HIDUP BAHAGIA PENUH CANDA TAWA; Padahal, Banyak Orang Karenanya Ternoda dan Terluka.
9. KARIRNYA TERUS MENANJAK; Padahal Banyak Hak Orang Yang Diinjak-Injak.. !
10. SEMAKIN TUA SEMAKIN MAKMUR; Padahal Berkubang Dosa Sepanjang Umur.. !

Hati-Hati, Karena itulah yang Dinamakan ISTIDRAJ.

Share:

Hadist ke 12 Tinggalkan Apa Yang Tidak Berguna

Tinggalkan Apa yang Tidak Berguna Dalam hadist Arbain Beserta Penjelasannya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ» حديثٌ حسنٌ، رواه الترمذي وغيره هكذا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata :Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu.
[Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2317), Sunan Ibnu Majah (no. 3976)]

Penjelasan:
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Qurrah bin ‘abdurrahman dari Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dan sanad-sanadnya ia nyatakan shahih. Tentang Hadits ini ia berkata : “Hadits ini kalimatnya pendek tetapi padat berisi”. Semakna dengan Hadits ini adalah ucapan Abu Dzar pada beberapa riwayatnya: “Barang siapa yang menilai ucapan dengan perbuatannya, maka dia akan sedikit bicara dalam hal yang tidak berguna bagi dirinya”.
Imam Malik menyebutkan bahwa sampai kepadanya keterangan bahwa seseorang berkata kepada Luqman : “Apa yang menjadikan engkau mencapai derajat yang kami saksikan sekarang?” Jawabnya : “Berkata benar, menunaikan amanat dan meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi diriku”.

Diriwayatkan dari Imam Al Hasan, ia berkata : “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya”. Ia berkata bahwa Abu Dawud berkata : “Ada 4 Hadits yang menjadi dasar bagi tiap-tiap perbuatan, salah satunya adalah Hadits ini”.
Share:

- Tuntut Keadilan, Desakan Proses Hukum Bos PT Indaco Tak Ada Sentimen SARA



Foto: LBH Mega Bintang Solo mengunjungi dan menyampaikan belasungkawa kepada kelurga korban penabrana bos PT Indaco

Desakan agar aparat kepolisian adil dalam memproses kasus penabrakan yang disertai unsur kesengajaan oleh Iwan Adranacus terhadap Eko Prasetio terus bermuculan. Kali ini tuntutan penegakan hukum terhadap bos PT Indaco datang dari LBH Mega Bintang Solo.
LBH Mega Bintang Solo turut bersuara menanggapi kasus penabrakan yang dilakukan bos PT Indaco Iwan Adranacus yang menewaskan Eko Prasetio di Jalan KS Tubun Solo, . Pimpinan LBH Mega Bintang, Mudrick Setiawan M Sangidoe mendesak penegak hukum untuk bertindak tegas dan menghukum pelaku seadil-adilnya.

“Tidak bisa dipungkiri, telah banyak terjadi penyalahgunaan wewenang oleh oknum aparat hukum, bila kasus hukum menimpa pada seorang yang berpengaruh,” ucap Sangidoe saat mengunjungi keluarga Eko Prasetio di Kartopuran, Solo, Senin (27/08/2018).
Sangidoe meminta polisi tidak memandang kedudukan pelaku dalam memproses kasus penabrakan Eko Prasetio. Seperti diketahui, Iwan Adranacus merupakan seorang pebisnis sekaligus pimpinan PT Indaco, sebuah perusahaan cat terkemuka di Karanganyar, Jawa Tengah.
Selain itu, Sangidoe juga mengajak seluruh masyarakat Solo untuk mengawal proses hukum kasus ini. Dengan adanya partisipasi dari masyarakat diharapkan hukum bisa berjalan sebagaimana mestinya, transparan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.
“Bukan karena sentimen Suku, Ras dan Agama, melainkan semata menuntut keadilan yang seadil-adilnya”, tambahnya.

Dalam kesempatan itu LBH Mega Bintang Solo juga menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga Eko Prasetio. “Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dalam menghadapi ujian berat ini,” tukas Sangidoe.

Baca Juga Hal Hal Yang Bisa Menurunkan Banyak Rejeki
Baca Juga Sendi Tubuh Kita Perlu di Sedekahi 
Share:

Hadist ke 11 Tinggalkan Apa Yang Meragukan

Tinggalkan Apa Yang Meragukan Hadist Arbain Beserta Penjelasannya
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بنِ عَلِيّ بنِ أبِي طالبٍ سِبْطِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ» رواه الترمذي والنسائي وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Dari Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya, berkata: aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Nasa`i, dan at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”
[Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2518), Sunan an-Nasa`i (VIII/327-328), Musnad Ahmad (I/200), Sunan ad-Darimi (II/245), Mushannaf Abdurrazzaq (no. 4984), Musnad ath-Thayalisi (no. 1274), al-Mustadrak (II/13, IV/99), dan Sunan al-Baihaqi (V/335)
Penjelasan:
Kalimat “yang meragukan kamu” maksudnya tinggalkanlah sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragu dan bergantilah kepada hal yang tidak meragukan. Hadits ini kembali kepada pengertian Hadits keenam, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya banyak perkara syubhat”.

Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa sebelum ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir berbuat sia-sia”.

Tingkatan sifat semacam ini lebih tinggi dari sifat meninggalkan yang meragukan.
Share:

- Komitmen Kepada Allah dan Rasul-Nya


وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ *وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ
 “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu…” (QS. An-Nahl; 91-92)

Dalam ayat di atas, Allah hendak mengistimewakan umat ini sebagai umat yang tidak pernah berkhianat. Selalu menempati janji dengan siapa pun juga. Sifat ini telah dibuktikan secara nyata oleh generasi para sahabat. Mereka berhasil menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang berpegang teguh dengan janji yang mereka ucapkan, baik janjinya dengan Allah sebagai Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia.

Rasulullah SAW menjadi sosok teladan yang selalu menginspirasi hidup mereka. Lewat Perjanjian Hudaibiyah, beliau mencontohkan bagaimana seorang muslim harus berkomitmen terhadap perjanjian. Meskipun membawa resiko yang amat berat, Rasulullah tetap setia dengan kesepakatan yang dijalin.

Ketika Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani oleh Nabi SAW, banyak para sahabat yang protes. Sebab, kesepakatan tersebut tidak berimbang dan terlihat merugikan kaum muslimin. Di antara hasil kesepakatannya adalah orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, harus dikembalikan ke Makkah dan orang Islam yang murtad dari Islam lalu lari ke Makkah tidak dikembalikan ke kaum Muslimin.

Duka dan tekanan yang mendalam efek dari perjanjian tersebut dialami langsung oleh Abu Bashir dan Abu Jandal, dua sahabat Nabi SAW yang kemudian kisahnya menjadi perhatian. Sebelum perjanjian itu disahkan, seorang Abu Jandal ra yang telah ditahan, disiksa, dan dirantai oleh kaum kafir karena keislamannya, berulangkali dia mencoba hijrah bertemu dengan Nabi SAW. Ia berharap dapat bergabung dengan kaum muslimin dan terbebas dari siksaan yang dialaminya.
Namun atas dasar perjanjian tersebut, Abu Jandal terpaksa harus kembali ke Makkah. Saat itu, dalam keadaan yang cukup sedih, ia berkata kepada kaum Muslimin, “Aku datang untuk masuk Islam, banyak penderitaan yang aku alami. Sayang, aku akan dikembalikan lagi.” Nabi SAW hanya mampu menghibur hatinya dan menyuruhnya tetap bersabar. Beliau bersabda, “Dalam waktu dekat, Allah akan membukakan jalan bagimu.”

Berikutnya, setelah selesai perjanjian Hudaibiyah disahkan, Abu Bashir melarikan diri ke Madinah setelah keislamannya. Orang-orang kafir mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Nabi SAW mengembalikan Abu Bashir ra kepada mereka.
Abu Bashir berkata, “Ya Rasulullah, aku datang setelah menjadi Muslim, dan engkau kembalikan aku kepada kaum kafir?” Nabi SAW menasehatinya agar bersabar, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan membukakan jalan bagimu.” Akhirnya, dengan terpaksa Abu Bashir dikembalikan ke Makkah.

Demikianlah cara Nabi saw menanamkan karakter kepada para sahabatnya. Apapun kesepakatannya, kaum muslimin harus menepatinya dengan baik. Baik membawa kemaslahatan baginya ataupun tidak, perjanjian tidak boleh diingkari. Sebab, karakter muslim yang disifati Allah Ta’ala adalah, “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,” (QS. Ar-Ra’d: 20)
Demikianlah karakter Umat Islam, mereka memenuhi janji bukan semata-mata karena keuntungan yang didapatkan. Namun janji tersebut mereka tunaikan demi mengharapkan ridha dari Allah semata. Sebab, dalam Al-Quran, Allah Ta’ala tegaskan kepada Nabi Muhammad SAW serta umatnya dengan berfirman:

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna, “Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” ialah dengan cara yang hati-hati. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat,” Yakni sekalipun berkhianat terhadap orang-orang kafir, Allah juga tidak menyukainya. (Tarsir Ibnu Katsir, 4/80)

Komitmen Kuat Generasi Sahabat

Komitmen dalam menepati janji adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Sebab, berkhianat merupakan sifat munafik yang bertentangan dengan iman seorang muslim. Dalam hal ini, lagi-lagi para sahabat menjadi profil teladan yang harus kita tiru. Contoh yang pernah ditunjukkan oleh Nabi SAW, berhasil menjiwai karakter mereka. Bagaimana pun kesepakatan yang terjalin, dengan siapa pun itu, bila kesepakatan tersebut tidak melanggar hak-hak Allah Ta’ala maka wajib ditepati.

BACA Juga Keteladaan Istri Rosullullah Aisyah ( Ummul Mu'minin ) dan Keutamaan Beliu

Contoh komitmen para salaf dalam memegang janji atau kesepakatan, terlihat jelas dalam hubungan muamalah yang mereka bangun. Jika sudah membangun komitmen, maka mereka akan memenuhinya tidak memandang perbedaan etnis, ras, golongan atau bahkan agama sekali pun. Komitmen dalam memegang kesepakatan harus selalu dijaga. Di antara bentuk komitmen tersebut pernah dicontohkan oleh salah satu sahabat agung Abu Ubaidah bin Jarrah saat memimpin perang melawan Romawi.
Sejarawan Islam mencatat, Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah berhasil membebaskan Syam, sebagian penduduknya masih tetap berpegang teguh dengan agama Nasrani. Sebagai konsekuensinya, mereka harus membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan keamanan hidup di bawah pemerintahan Islam. Namun ketika keamanan itu mulai terancam, Abu Ubaidah segera memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan jizyah yang telah mereka pungut.
Dalam kitab Al-Kharaj, Qadhi Abu Yusuf mengisahkan bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mendapat informasi bahwa Romawi telah menyatukan para tentara untuk menyerang umat Islam dengan jumlah yang sangat besar dan belum pernah terlihat sebelumnya. Kemudian, beliau memerintahkan para pemimpin di daerah Syam untuk mengembalikan jizyah serta apa saja yang mereka ambil dari Ahlul Kitab.
Instruksi itu pun dilaksanakan dengan baik oleh para pemimpin Syam, dan mereka berkata kepada Ahlul Kitab, “Kami hanya ingin mengembalikan harta-harta kalian. Karena sesungguhnya, pasukan Romawi telah melebihi jumlah kami. Dan sekarang, kami harus segera pergi. Sebab, kami tak mampu lagi melindungi kalian.”
Merasa takjub dengan kata-kata yang sangat mengharukan ini, orang-orang Ahlul Kitab berseru, “Semoga Allah mengembalikan kalian kepada kami. Dan semoga Allah menolong kalian atas mereka. Sekiranya Romawi yang memimpin kami, tidak ada satupun yang dapat mereka kembalikan setelah mereka mengambilnya dari kami. Bahkan, mereka justru mengambil semua yang kami miliki, sampai-sampai mereka tidak meninggalkan apa-apa untuk kami.”

Beginilah salah satu bentuk komitmen kuat yang dicontohkan oleh para sahabat. Persoalan janji harus ditepati dengan baik. Tidak hanya janji yang diikat dengan sesama manusia, namun janji yang pernah terucapkan dengan Allah Ta’ala—melalui kalimat syahadat—juga mereka tunaikan dengan sempurna. Sebab, demikianlah konsekuensi iman yang harus dijalani oleh setiap muslim. Karena itu, sudah selayaknya bagi umat Islam hari ini untuk terus menjiwai karakter tersebut. Agar kejayaan Islam yang pernah ditunjukkan oleh para sahabat mampu terwujudkan kembali di muka bumi ini.  

Wallahu a’lam bissowab
Share:

- Disekap di Kandang Ayam, 3 Hari 2 Bocah Tak Dikasih Makan




BATAM -- Nasib malang dialami kaka beradik, R berusia 4,5 tahun dan A berusia 3,5 tahun, Dua bocah balita itu disekap pamannya sendiri di kandang ayam.
Ironisnya lagi dua bocah balita itu tak dikasih makan bahkan disiksa. Dikutip suara.com, dua bocah balita itu ditemukan warga di ruang kosong mirip kandang ayam di Perumahan Central Park Residence, Batuaji, Batam, Kepulauan Riau.

Saat ditemukan, Kamis (23/8/2018) malam, keduanya dalam kondisi kelaparan dan tak terurus di sebuah ruangan samping rumah warga bernama Suryanto.
Sejak Jumat (24/8), kedua balita yang diduga ditelantarkan orangtuanya dan disekap pamannya tersebut langsung dievakuasi ke RSUD Embung Fatimah.
Keduanya selama ini diasuh Suryanto, yang diduga saudara dari orangtua mereka.
Suryanto kini berurusan dengan pihak berwajib. Ia ditahan polisi akibat ulahnya menelantarkan kedua keponakannya yang masih balita. Selain itu, ia juga melakukan tindakan kekerasan.
Berdasarkan informasi dari kepolisian yang didapat Batamnews—jaringan Suara.com, Senin (27/8/2018), R dan A masih dalam perawatan tim dokter akibat kelaparan dan luka lebam di sekujur tuhuh, hingga mengalami gangguan pencernaan.
“Mereka keponakan saya. Orangtuanya yang bekerja sebagai buruh pabrik di Timor Leste,” kata Suryanto saat ekspose perkara ini di Polresta Barelang, Senin (27/8/2018).
Ia menuturkan, mengurung kedua bocah tersebut di ruang mirip kandang ayam berlumpur tersebut karena kesal. Sebab, ia mengklaim, keduanya nakal.
"Saya kesal, pas saat istri saya lagi sakit, A dan R nakal, sehingga saya terpaksa mengurungnya di dalam gudang samping rumah," ujarnya.
Ia juga mengakui memukul wajah A dan R dengan cara menampar dan juga mencubit badannya.

Dikirimi Uang

Padahal, selama dititipkan, Suryanto selalu dikirimi uang oleh kedua orangtua balita ini senilai Rp 2,6 juta per bulan.
Kapolresta Barelang Komisaris Besar Hengki mengatakan, pihaknya telah menghubungi kedua orangtua balita itu. Namun, keduanya ternyata mengalami kesulitan finansial untuk pulang ke Batam saat ini.
"Muhammad Taher dan Aisyah kedua orang tua balita, sudah kami hubungi. Namun belum bisa datang ke Batam, katanya lagi kumpulkan dana untuk pulang," terang Hengki.
Penganiayaan ini terjadi tiga hari berturut-turut. Suryanto kesal melihat A dan R yang menurutnya nakal



Share:

- Hidup Berjiwakan Al Quran



Suatu ketika Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan singkat Aisyah menjawab, “Kana khuluquhu Al-Qur’an (Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Qur’an),” (HR. Muslim)

Ya, sebuah jawaban yang cukup singkat namun sarat dengan makna. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat mulia yang ada. Seolah-olah Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an yang berjalan.
Jika Al-Qur’an bisa diibaratkan seperti blue print yang berisi seperangkat aturan moral serta norma-norma agama dan sosial, maka Rasulullah adalah wujud nyata dari aturan moral serta norma-norma agama dan sosial tersebut. Karena itu, cerminan akhlak yang paling mulia adalah ketika mampu mewujudkan seluruh nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupannya. Atas dasar ini pula kita bisa memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
 إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” (HR. Ahmad)

Dalam bermuamalah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menunjukkan akhlaknya yang mulia terhadap siapa pun yang beliau temui. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun, Rasulullah tetap menampilkan pribadinya yang santun dan terpuji.
Di antara contoh teladan yang sering kita baca adalah tentang perlakuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu, hingga tubuh beliau berlumuran darah. Lalu ketika malaikat Jibril ‘alaihissalamdatang menawarkan bantuan untuk menghancurkan penduduk Thaif tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru melarangnya. Beliau hanya berdoa dan berharap semoga kelak di antara keturunan mereka ada yang mendapatkan hidayah dan membela agama Islam.

Baca Juga : Karnaval dengan Senjata Mainan, Murid TK dipermasalahkan dikaitkan dengan Teroris 

Akhlak Mulia Laksana Al-Quran yang Berjalan

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala membanggakan umat ini dengan karakternya yang mulia. Hal ini ditandai dengan prinsip iman yang Allah jadikan selalu melekat dengan akhlak yang terpuji. Lalu Allah pun menjadikan akhlak sebagai barometer keimanan. Tolak ukur keimanan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana keluhuran akhlak yang dimilikinya. Karena itu, untuk memiliki iman yang sempurna, seorang mukmin dituntut untuk senantiasa memiliki akhlak yang baik terhadap siapa pun juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmizi)
Selain terhadap sesama manusia, seorang mukmin juga harus memerhatikan akhlaknya terhadap Allah Ta’ala. Bahkan ini menjadi perhatian utama dalam hidupnya, yaitu bagaimana menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Keluhuran akhlak itu terbagi dua. Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan pasti mengandung kekurangan sehingga membutuhkan udzur dari-Nya dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya wajib disyukuri.
Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda. Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama manusia. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan.” (Tahzibus Sunan, 7/161)

Dalam kitab “Waqi’unal Mua’ashir”, Dr. Muhammad Qutub menerangkan bahwa di antara bukti keistimewaan ajaran Islam ialah Allah mengaitkan ikatan iman dengan akhlak yang terpuji. Dalam QS. Ar-Ra’d ayat 20-23, Allah Ta’ala berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkannya, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),…”
Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa makna “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah” memenuhi seluruh janji yang pernah mereka ikrarkan. Baik antara mereka dengan Allah Ta’ala ataupun antar sesama manusia. (Fathul Qadir,1/172)
Sementara itu Ibnu Abbas menjelaskan, “Memenuhi janji Allah adalah memenuhi janji yang pernah diikrarkan manusia ketika di alam rahim, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi” (Mafatihul Ghaib, 19/33)
Lalu di ayat berikutnya Allah Ta’ala jelaskan tentang akhlak mereka yang tidak beriman;
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam),” (QS. Ar-Ra’d: 26)
Maknanya, karakter mereka yang beriman selalu menunjukkan keluhuran akhlak. Tak hanya hubungannya dengan semua makhluk yang ada di muka bumi, namun juga memerhatikan hubungannya dengan Allah ta’ala . Maka standar yang tepat untuk mengukur kesempurnaan akhlak seseorang adalah ketika dia mampu mewujudkan isi al-Qur’an dalam kehidupannya. Sehingga seluruh gerak-geriknya tak ubahnya seperti al-Qur’an yang berjalan.
Hidup Berjiwakan al-Quran
Para sahabat adalah generasi yang paling sempurna dalam beriman. Mereka berhasil meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segala sisi kehidupannya. Tidak hanya dalam urusan ibadah, dalam aspek yang lain pun seluruhnya mereka contoh dari beliau. Terlebih dalam ber-akhlak antar sesama manusia. Mereka saling berlomba-lomba untuk menjadi sosok seperti al-Quran yang berjalan.

Kemulian akhlak terhadap Allah, mereka wujudkan dengan cara totalitas dalam mengamalkan syariatnya. Tidak pernah mengingkari satu pun janji yang telah mereka ikrarkan. Demi agama, mereka rela mengorbankan apapun yang dimiliki, hingga nyawa sekalipun. Prinsipnya, semua konsekuensi syahadat (ikrar) mereka penuhi dan tak pernah satu pun yang diabaikan.
Sementara keluhuran akhlak terhadap sesama makhluk, berhasil mereka buktikan dalam setiap momen kehidupan mereka. Baik dalam berpolitik, bersosial, bermuamalah, bahkan dalam berperang sekalipun. Semuanya mereka lewati dengan menjunjung tinggi norma-norma yang terkandung dalam al-Qur’an.
Dalam memegang amanah misalnya, ketika Abu Bakar dipilih sebagai khalifah, pidato pertama kali yang muncul dari lisan beliau adalah, “Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, dukunglah saya. Sebaliknya jika aku berbuat salah, luruskanlah saya…” ungkapan yang sama juga diucapkan oleh Umar bin Khatab saat beliau ditunjuk sebagai pemimpin umat Islam.
Demikianlah salah satu contoh kemulian akhlak para sahabat. Meskipun tampuk kekuasaan sudah berada di tangan mereka, mereka tetap merendah diri dan selalu berupaya agar sejalan dengan petunjuk al-Quran. Bagi mereka kedudukan bukanlah tujuan yang harus dikejar, tapi ia hanyalah sarana agar bisa mendapatkan kesempatan beramal lebih banyak. Sehingga dalam memimpin pun mereka tidak segan-segan menyuruh rakyatnya untuk meluruskan sikapnya jika menyimpang dari petunjuk al-Quran.
Demikian juga dalam peperangan, mereka selalu mengingatkan pasukannya dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Nabi, “Berperanglah di jalan Allah dengan menyebut namaNya. Perangilah mereka yang kufur. Berperanglah, jangan kalian berlebihan (dalam membunuh). Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang sepuh, dan rahib di tempat ibadahnya.” (HR. Muslim)
Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq memberangkatkan mujahidin menuju Syam, ia berwasiat kepada pasukannya:
وَلا تُغْرِقُنَّ نَخْلاً وَلا تَحْرِقُنَّهَا، وَلا تَعْقِرُوا بَهِيمَةً، وَلا شَجَرَةً تُثْمِرُ، وَلا تَهْدِمُوا بَيْعَةً
“Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan,…” (Tarikh Dimasyq 2/75)
Sungguh mulia akhlak yang mereka contohkan. Akhlaknya terhadap Allah Ta’ala, mereka tunjukkan dengan cara totalitas menunaikan perintahNya. Sementara terhadap sesama makhluk mereka selalu bersikap rahmah dan menghindar dari segala bentuk kezaliman. Karena itu, mereka mampu menjadi umat pilihan yang mampu mewujudkan seluruh kandungan A-Quran dalam kehidupannya.  Wallahu a’lamu bissowab







sumber dari www.kiblat.net
Share:

Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah
Klik Gambar Cari Tiket

TIKET KERETA API MURAH

TIKET KERETA API MURAH
Klik Gambar Untuk Cari Tiket

CARI HOTEL MURAH

CARI HOTEL MURAH
klik Gambar Untuk Cari Hotel

BUS TRAVEL

BUS TRAVEL
Klik Gambar Untuk Cari Bus Travel

Rent Car dan Penjeputan Bandara

Rent Car dan Penjeputan Bandara
Klik Gambar Untuk Mencari

PAKET UMROH

PAKET UMROH
Klik Gambar Umroh Untuk Info Detail

Popular Posts

Hot News

Hadist Tentang Ibadah Udhiyah

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : من كان له سِعَةٌ ولم يُضَحِّ فلا يَشهدْ مصلَّانا ...

Recent Posts