Blog Berisi Syariat agama Islam ,kajian Islam,Sholat,Puasa,Zakat,Qurban Sejarah Nabi,Tafsir Ibnu Katsir,Al Hadist,Berita, dan Lowongan Kerja.

- Mengkhianati Perjuangan Umat Islam


Di antara hikmah ujian dalam setiap fase perjuangan adalah nampaknya orang-orang yang tidak jujur dengan perjuangannya. Orang seperti ini seringkali menjadi duri dalam daging perjuangan. Ketika perjuangan menghasilkan pundi-pundi uang baginya, maka dia akan terus bersama perjuangan. Namun ketika perjuangan tidak lagi menguntungkannya, ketika perjuangan justru menyulitkannya, seketika itu pulalah dia berbalik dan berkhianat. Terlebih musuh menawarkan janji-janji manis untuknya.
Hakikat Khianat
Diantara perkara yang dapat membatalkan iman seseorang adalah sikap khianat. Ketika orang-orang Islam telah bersatu dalam barisan perjuangan, para pengkhianat bermanuver menjadi penolong dan pembantu orang-orang kafir dalam memusuhi kaum muslimin, bergabung dalam barisan mereka, membela mereka dengan harta, lisan dan narasi. Inilah yang dapat membatalkan iman. (Tafsir at-Thobari, 3/140)
Allah menjelaskan bahwa sifat khianat itu dapat membatalkan keimanan. Allah berfirman ;
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah : 51)
Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya, “Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, yaitu membantu mereka dalam memusuhi kaum muslimin. maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka, yaitu penjelasan hukumnya sebagaimana hukum orang kafir, yaitu tidak ada waris-mewarisi kepada orang muslim karena murtad, demikian juga jika pelakunya anak bapak seseorang. Hukum ini berlaku hingga Hari Kiamat sebab terputus perwaliannya.” (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Tidak diragukan, mengkhianati kaum muslimin dengan membantu orang-orang yang memusuhinya merupakan pembatal iman. Diantara bentuknya adalah bergabung dalam barisan orang-orang yang membenci agama dan syari’at Allah, memusuhi hamba-hamba-Nya yang shalih dan ulama, dan menjadi penolong dan pelindung orang-orang kafir.
Karena tidak mungkin iman dan loyalitas semacam itu berkumpul menjadi satu. Allah berfirman :
وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِالله والنَّبِيِّ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاء وَلَـكِنَّ كَثِيراً مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.  al-Maidah : 81)
 
Berkhianat dengan membantu barisan musuh merupakan karakter orang-orang munafik, dan cabang dari kemunafikan. Allah menjelaskan bahwa kedudukan orang munafik lebih buruk daripada orang-orang kafir. Orang-orang munafik ini lebih berbahaya karena dengan khianatnya, mereka mampu menembus jantung pertahanan kaum muslimin dan mempengaruhi kebijakan pemerintahan.

Peran Pengkhianatan dalam Meruntuhkan Peradaban

Sejarah telah memberi pelajaran akan bahayanya para pengkhianat. Runtuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol (Tatar) tidak lepas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh wazir (perdana menteri) Muhammad bin al-Alqami, seorang penganut paham Syi’ah yang sangat dendam terhadap Ahlussunnah. Ia menjabat wazir (Perdana Menteri ) bagi Khalifah al-Musta’shim Billah, khalifah terakhir Bani Abbas di Iraq.
Tatkala pasukan Mongol mengepung benteng Kota Baghdad pada tanggal 12 Muharram 656 H, wazir Ibnu al-Alqami menunjukkan pengkhianatannya untuk kesekian kalinya. Dialah orang yang pertama kali menemui pasukan Mongol. Dia keluar bersama keluarga, pembantu, dan pengikutnya menemui Hulaghu Khan untuk meminta perlindungan kepadanya. Kemudian dia kembali ke Baghdad lalu membujuk Khalifah agar keluar bersamanya untuk menemui Hulaghu Khan dengan usulan serta pembagian hasil devisa setengah untuk Khalifah dan setengah untuk Hulaghu.

Maka berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, ahli fiqh, kaum sufi, tokoh-tokoh negara, masyarakat dan petinggi-petinggi negara dengan 700 pengendara. Tatkala mereka hampir mendekati markas Hulaghu mereka ditahan oleh pasukan Mongol dan tidak diizinkan bertemu Hulaghu kecuali Khalifah bersama 17 orang saja.

Lalu Khalifah pun menemui Hulaghu Khan bersama 17 orang tersebut, sedangkan yang lain menunggu di atas tunggangan mereka. Sepeninggal Khalifah, mereka dirampok dan dibunuh oleh pasukan Mongol. Selanjutnya, Khalifah dibawa ke hadapan Hulaghu dan disandera bersama 17 orang yang ikut dengannya. Mereka diteror, diancam, dan diintimidasi serta dipaksa agar menyetujui apa yang diinginkan oleh Hulaghu.


Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad bersama Ibnu al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi yang semadzhab dengan Ibnu al-Alqami. Di bawah rasa takut dan tekanan yang hebat Khalifah pun mengeluarkan emas, perak, perhiasan, peramata, dan barang-barang berharga lainnya yang jumlahnya sangat banyak untuk diserahkan kepada Hulaghu. Akan tetapi sebelumnya, Ibnu al-Alqami bersama bersama Nashriuddin ath-Thusi sudah membisiki Hulaghu agar tidak menerima tawaran perdamaian dari Khalifah. Mereka berhasil mempengaruhi Hulaghu bahwa perdamaian itu hanya bertahan 1 atau 2 tahun saja. Mereka pun mendorong Hulaghu agar menghabisi Khalifah.

Tatkala Khalifah kembali dengan membawa barang-barang yang banyak, Hulaghu justru menginstruksikan agar mengeksekusi Khalifah. Maka pada hari Rabu tanggal 14 Shafar terbunuhlah Khalifah al-Musta’shim Billahi. Dalang dibalik terbunuhnya Khalifah adalah Ibnu al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi. (Siyar A’lam an-Nubala, 23/183)

Bersamaan dengan gugurnya Khalifah, maka pasukan Mongol pun menyerbu masuk ke Baghdad tanpa perlawanan yang berarti. Dengan demikian, jatuhlah Baghdad di tangan pasukan Mongol. Dilaporkan bahwa jumlah orang yang tewas kala itu adalah 2 juta jiwa. Tak ada yang selamat kecuali Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Mongol atau berlindung di rumah Ibnu al-Alqami serta para konglomerat yang membagi-bagikan harta mereka kepada pasukan Mongol dengan jaminan keamanan pribadi. (al-Bidayah wan Nihayah, 13/235)

Jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan Khilafah Bani Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan lantaran pejabat yang berkhianat. Wallahu a’lamu bissowab
BACA Juga Peduli Kaum Tertindas ,saat Pertolongan Allah Datang
BACA Juga Keteladaan Istri Rosullullah Aisyah ( Ummul Mu'minin ) dan Keutamaan Beliu











Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah
Klik Gambar Cari Tiket

TIKET KERETA API MURAH

TIKET KERETA API MURAH
Klik Gambar Untuk Cari Tiket

CARI HOTEL MURAH

CARI HOTEL MURAH
klik Gambar Untuk Cari Hotel

BUS TRAVEL

BUS TRAVEL
Klik Gambar Untuk Cari Bus Travel

Rent Car dan Penjeputan Bandara

Rent Car dan Penjeputan Bandara
Klik Gambar Untuk Mencari

PAKET UMROH

PAKET UMROH
Klik Gambar Umroh Untuk Info Detail

Popular Posts

Hot News

Hadist Tentang Ibadah Udhiyah

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : من كان له سِعَةٌ ولم يُضَحِّ فلا يَشهدْ مصلَّانا ...

Recent Posts